RADAR KUDUS - Vokalis Kotak, Tantri Syalindri, mengungkapkan masih merasakan dampak psikologis setelah mengalami insiden saat tampil di kawasan Geopark Ciletuh, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dalam penampilannya pada acara Syukuran Hari Nelayan, Tantri secara tiba-tiba dihampiri seorang pria yang naik ke atas panggung dan langsung berusaha memeluknya.
Peristiwa yang sempat viral di media sosial itu terjadi sesaat setelah Kotak menuntaskan penampilannya. Suasana yang sebelumnya berlangsung meriah berubah menegangkan ketika pria tak dikenal tersebut menerobos pengamanan dan mendekati sang vokalis.
Tantri mengaku kejadian tersebut masih membekas dalam ingatannya. Bahkan, ketika kembali melihat rekaman video yang beredar luas di media sosial, ia mengaku kembali teringat pada momen yang membuatnya terkejut.
Menurut Tantri, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi dirinya maupun seluruh tim produksi agar lebih waspada terhadap potensi gangguan keamanan saat tampil di atas panggung.
Baca Juga: KURANG AJAR! Ini Detik-detik Tantri Kotak Nyaris Dipeluk Pria Tak Dikenal Saat Manggung
Ia menilai pengamanan artis harus menjadi prioritas karena tidak semua orang yang mencoba mendekati panggung memiliki tujuan yang dapat dipastikan aman.
"Kalau dibilang trauma, iya. Ini menjadi pelajaran bagi saya dan tim supaya lebih berhati-hati. Kami tidak bisa lagi membiarkan sembarang orang naik ke atas panggung karena harus mengantisipasi hal-hal seperti ini," ungkap Tantri saat ditemui di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Tantri kemudian menceritakan kronologi kejadian yang berlangsung sangat cepat. Saat itu ia baru saja menyelesaikan penampilan bersama Kotak dan hendak berbalik meninggalkan panggung.
Namun tanpa diduga, seorang pria tiba-tiba naik ke atas panggung dan langsung mengarah kepadanya.
Menurutnya, pria tersebut terlihat sangat bersemangat dan diduga tidak berada dalam kondisi sadar sepenuhnya.
"Setelah selesai tampil, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mungkin terlalu bersemangat. Dia langsung naik ke panggung dan spontan memeluk saya," ujarnya.
Karena baru saja menyelesaikan penampilan, Tantri mengaku belum sepenuhnya menyadari situasi di sekelilingnya. Ia baru menyadari keberadaan pria tersebut ketika hendak berbalik badan.
Beruntung, kru teknis dan petugas keamanan yang berada di sekitar panggung bergerak sangat cepat. Sebelum pria tersebut berhasil mendekapnya lebih lama, tim langsung menghalau dan mengamankan pelaku keluar dari area panggung.
Tantri mengaku bersyukur insiden itu dapat ditangani dengan cepat sehingga tidak berkembang menjadi situasi yang lebih berbahaya.
Berdasarkan informasi yang diterimanya dari tim di lapangan, pria tersebut diduga berada di bawah pengaruh minuman beralkohol.
Tantri mengatakan, setelah diamankan aparat kepolisian, pria tersebut masih terlihat tersenyum dan mengaku sebagai penggemarnya.
Meski demikian, dugaan bahwa pelaku berada di bawah pengaruh alkohol belum menjadi kesimpulan resmi aparat dan masih sebatas informasi yang disampaikan tim di lokasi.
Insiden tersebut kembali memunculkan perhatian mengenai pentingnya sistem keamanan dalam penyelenggaraan konser musik. Pada acara yang melibatkan ribuan penonton, penyelenggara biasanya menerapkan pengamanan berlapis, mulai dari pembatas panggung, petugas keamanan di area depan, hingga kru yang siaga mengantisipasi berbagai kemungkinan.
Pakar keamanan acara juga kerap menekankan bahwa artis memiliki hak atas rasa aman selama menjalankan pekerjaannya. Tindakan penonton yang naik ke panggung tanpa izin, memeluk, atau menyentuh penampil tanpa persetujuan berpotensi mengganggu keselamatan dan kenyamanan artis maupun jalannya pertunjukan.
Meski sempat mengalami kejadian yang membuatnya trauma, Tantri tetap menyampaikan apresiasi kepada mayoritas penonton yang menikmati konser dengan tertib dan memberikan dukungan positif kepada Kotak.
Ia berharap pengalaman tersebut menjadi evaluasi bersama agar penyelenggara, petugas keamanan, dan penonton semakin memahami pentingnya menjaga batas keamanan selama pertunjukan berlangsung.
Dengan pengamanan yang lebih ketat dan kesadaran seluruh pihak, konser musik diharapkan tetap menjadi ruang hiburan yang aman, nyaman, dan menyenangkan tanpa harus diwarnai insiden yang dapat membahayakan artis maupun para penonton.
Editor : Mahendra Aditya