RADAR KUDUS - Jagat media sosial tengah dihebohkan dengan kisah seorang penjual cilok yang tetap berkeliling menjajakan dagangannya meski tinggal di rumah megah.
Sosok tersebut adalah Danil, warga Bondowoso, Jawa Timur, yang berhasil mencuri perhatian publik lewat video unggahan di akun Instagram pribadinya.
Video itu memperlihatkan aktivitas Danil saat bersiap berjualan cilok menggunakan sepeda motor.
Penampilannya tampak sederhana layaknya pedagang kaki lima pada umumnya.
Namun, perhatian warganet langsung tertuju pada rumah bertingkat dengan desain mewah yang menjadi latar belakang video tersebut.
Kontras antara hunian megah dan profesinya sebagai penjual cilok membuat unggahan itu viral hingga ditonton lebih dari 25 juta kali.
Alih-alih merasa gengsi, Danil justru bangga dengan pekerjaannya. Baginya, mencari rezeki dengan cara yang halal jauh lebih penting dibanding menjaga gengsi di hadapan orang lain.
Melalui unggahannya, ia ingin menyampaikan bahwa tidak ada pekerjaan yang layak dipandang rendah selama dilakukan dengan jujur.
"Nggak apa-apa terlihat kasihan, yang penting nggak gengsian."
Kalimat tersebut menjadi pesan utama yang ia sampaikan kepada para pengikutnya di media sosial dan berhasil mengundang ribuan komentar positif.
Dalam keterangannya kepada media, Danil menjelaskan bahwa dirinya tetap memilih berdagang bukan karena terdesak kebutuhan ekonomi.
Ia memiliki cita-cita membangun usaha sendiri yang suatu saat dapat berkembang lebih besar dan membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang.
Usaha cilok yang dijalankannya dibangun bersama sang istri, Fera. Setiap hari, Danil menjual cilok dengan harga sekitar Rp5.000 per porsi sehingga dapat dijangkau seluruh kalangan masyarakat.
Sebelum memilih berjualan cilok, ia juga pernah mencoba menjalankan usaha bakso. Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk terus belajar mengembangkan bisnis kuliner secara mandiri.
Banyak warganet mempertanyakan asal-usul rumah megah yang muncul dalam video viral tersebut. Menjawab rasa penasaran publik, Danil menjelaskan bahwa rumah tersebut merupakan pemberian dari mertuanya.
Ia mengaku tinggal bersama istri dan anak di rumah itu. Meski mendapatkan fasilitas dari keluarga, Danil memilih untuk tidak bergantung pada kekayaan mertuanya.
Menurut pengakuannya, sang mertua memiliki lahan pertanian, gudang padi, serta usaha tembakau. Namun kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti bekerja.
"Jangan berharap apa pun kepada siapa pun. Walaupun kamu anak orang kaya atau menantu orang kaya, kamu harus bisa berdiri di atas kaki sendiri."
Prinsip tersebut menjadi alasan mengapa ia tetap memilih mencari penghasilan dari hasil usahanya sendiri.
Danil mengakui bahwa pada awal mulai berjualan, ia sempat merasa malu. Namun rasa minder itu perlahan hilang setelah dagangannya mendapat sambutan baik dari masyarakat.
Hari pertama berjualan justru menjadi pengalaman yang membuatnya semakin yakin untuk menekuni usaha tersebut. Respons positif para pembeli membangkitkan rasa percaya dirinya hingga kini tetap konsisten berdagang.
Ia juga sengaja memilih cilok karena merupakan jajanan yang digemari hampir semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, dengan harga yang terjangkau.
Popularitas video tersebut memunculkan berbagai spekulasi. Ada yang mengira rumah mewah itu milik bos tempatnya bekerja, sementara sebagian lainnya menduga ia hanya membuat konten demi mencari perhatian.
Menanggapi berbagai komentar tersebut, Danil memilih bersikap santai. Ia mengaku hanya tersenyum membaca beragam tanggapan dari warganet dan tidak merasa perlu membalas tudingan yang beredar.
Baginya, fokus utama tetap menjalankan usaha dan menyebarkan semangat kepada generasi muda agar tidak malu bekerja apa pun profesinya selama dilakukan secara halal.
Kisah Danil pun kini menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Di tengah budaya yang kerap mengukur kesuksesan dari penampilan, ia justru menunjukkan bahwa kerja keras, kemandirian, dan kemauan membangun usaha sendiri merupakan nilai yang jauh lebih berharga daripada sekadar menjaga gengsi. (Muthia)
Editor : Ali Mustofa