Jakarta - Krisis iklim global tengah memicu gelombang panas (heatwave) ekstrem di benua Eropa, yang dilaporkan telah menyebabkan hingga 1.300 kematian berlebih sejak akhir Juni lalu.
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, bahkan memperingatkan bahwa Eropa memanas dua kali lebih cepat dari rata-rata global, sementara infrastrukturnya belum siap menghadapi suhu setinggi itu.
Di tengah situasi tersebut, sebagian masyarakat Indonesia turut mengeluhkan suhu udara yang terasa kian menyengat belakangan ini.
Meski demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa fenomena yang terjadi di tanah air sama sekali bukan gelombang panas seperti yang melanda Eropa.
Faktor Geografis dan Karakteristik Atmosfer Tropis
Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menjelaskan bahwa posisi geografis Indonesia di sepanjang garis khatulistiwa menjadi pelindung alami dari fenomena heatwave.
Menurutnya, gelombang panas memiliki karakteristik yang hanya terbentuk di wilayah lintang menengah hingga tinggi.
"Secara geografis wilayah Indonesia berada di sekitar wilayah ekuatorial, sehingga memiliki karakteristik dinamika atmosfer yang berbeda dengan wilayah lintang menengah-tinggi (seperti Asia Tengah, Eropa, dan Amerika)," ujar Ida saat dihubungi, Rabu (1/7/2026).
Selain faktor posisi, atmosfer di atas wilayah tropis Indonesia memiliki variabilitas yang sangat dinamis.
Perubahan cuaca yang terjadi berlangsung dengan cepat, sehingga stabilitas atmosfer jangka panjang—yang diperlukan untuk membentuk gelombang panas—sulit tercipta.
Hanya Cuaca Panas Musiman biasa
Senada dengan Ida, Sekretaris Utama BMKG Guswanto meluruskan kekhawatiran masyarakat dengan menyatakan bahwa lonjakan suhu di Indonesia saat ini murni merupakan siklus cuaca musiman, bukan indikasi heatwave.
"Gelombang panas (Heatwave) hampir tidak terjadi di Indonesia karena atmosfer tropis cepat berubah dan tidak stabil," terang Guswanto.
Guswanto menambahkan bahwa kondisi terik yang dirasakan masyarakat saat ini lebih dipicu oleh dua faktor utama:
-
Gerakan Semu Matahari: Posisi matahari yang memengaruhi intensitas radiasi ke bumi.
-
Langit Cerah Minim Awan: Kurangnya tutupan awan yang biasa terjadi selama musim kemarau, sehingga sinar matahari langsung menyengat permukaan bumi tanpa penghalang.
Melalui penjelasan ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan memastikan bahwa cuaca menyengat di Indonesia saat ini masih berada dalam koridor dinamika cuaca tropis yang normal.
Editor : Iwan Arfianto