Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Duka di RS Leona: Dokter Muda dr. Icha Wafat, Diduga Alami Depresi Hebat Pasca-Ketegangan dengan Anggota DPRD TTU

Ghina Nailal Husna • Sabtu, 27 Juni 2026 | 21:12 WIB
Duka di RS Leona: Dokter Muda dr. Icha Wafat, Diduga Alami Depresi Hebat Pasca-Ketegangan dengan Anggota DPRD TTU
Duka di RS Leona: Dokter Muda dr. Icha Wafat, Diduga Alami Depresi Hebat Pasca-Ketegangan dengan Anggota DPRD TTU

 

KEFAMENANU — Kabar duka yang menyayat hati kembali menyelimuti dunia kedokteran dan pelayanan kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Seorang dokter muda yang dikenal berdedikasi tinggi, dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni, atau yang karib disapa dr. Icha, dilaporkan meninggal dunia di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) pada Jumat malam (26/6/2026).

Kepergian dokter muda ini seketika memicu gelombang duka mendalam sekaligus perhatian luas dari publik.

Baca Juga: Atasi Krisis Tenaga Medis, Wakil Ketua Komisi IX DPR Usul Pemanfaatan AI untuk Analisis Penyakit di Daerah Terpencil

Hal ini terjadi menyusul merebaknya dugaan bahwa almarhumah mengalami guncangan psikologis berat hingga depresi sebelum mengembuskan napas terakhir, imbas dari sebuah insiden menegangkan saat dirinya tengah piket menjaga nyawa pasien di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Kronologi Ketegangan di Ruang Darurat IGD RS Leona

Berdasarkan runtutan informasi yang dihimpun dari lingkaran rekan sejawat, polemik ini berakar dari sebuah dinamika penanganan medis darurat di IGD Rumah Sakit Leona Kefamenanu.

Saat itu, dr. Icha bertindak sebagai dokter jaga yang bertanggung jawab menangani seorang pasien anak yang dalam kondisi kritis akibat gigitan ular, setelah sebelumnya dirujuk dari RSUD Kefamenanu.

Di tengah upaya tim medis melakukan tindakan penyelamatan cepat guna menghalau penyebaran racun, situasi ruang IGD mendadak berubah menjadi konfrontatif.

Sejumlah orang, yang di antaranya diidentifikasi sebagai oknum anggota DPRD Kabupaten TTU, mendatangi lokasi. 

Mereka datang untuk mempertanyakan prosedur serta kecepatan penanganan medis yang diberikan oleh dr. Icha kepada pasien anak tersebut.

  • Intonasi dan Tekanan Verbal: Saksi mata dan rekan seprofesi menyebutkan bahwa interaksi di dalam ruangan berjalan tidak seimbang. Percakapan berlangsung dengan nada tinggi, bentakan, serta penuh tekanan dari pihak oknum pejabat daerah tersebut.

  • Dampak Psikis pada Korban: Tekanan verbal yang terjadi di ruang publik tempatnya mengabdi dilaporkan membuat dr. Icha mengalami syok berat, merasa sangat tertekan, hingga didera ketakutan yang hebat.

  • Perubahan Kondisi Kesehatan Mental: Pasca-insiden tersebut, rekan sejawat almarhumah mengonfirmasi adanya perubahan drastis pada kondisi psikologis dr. Icha yang tampak terguncang hebat, menutup diri, hingga berujung pada dugaan depresi klinis sebelum ia dikabarkan tutup usia.

Pembelaan Anggota Dewan: Faktor Kepanikan Situasi Darurat

Merespons bola panas yang menggelinding di ruang publik, pihak anggota DPRD TTU yang namanya terseret dalam pusaran kasus ini segera memberikan klarifikasi dan bantahan resmi.

Mereka secara tegas menyatakan tidak pernah memiliki niat, apalagi rencana terstruktur, untuk melakukan tindakan intimidasi atau persekusi terhadap tenaga kesehatan.

Mereka berdalih bahwa respons emosional di ruang IGD tersebut murni dipicu oleh rasa panik yang luar biasa dari pihak keluarga.

Mengingat kondisi fisik sang anak yang terus merosot akibat efek bisa ular, situasi darurat yang mencekam itu membuat komunikasi di lapangan diakui berjalan dengan intonasi yang keras, tegas, dan emosional.

“Kami tidak pernah berniat sama sekali untuk mengintimidasi tenaga medis yang sedang bertugas. Situasinya saat itu sangat darurat dan keluarga berada dalam kondisi panik luar biasa,” demikian bunyi pernyataan resmi salah satu anggota dewan yang bersangkutan.

Pihak anggota legislatif tersebut juga menambahkan bahwa pasca-kesalahpahaman di malam itu, mereka telah menunjukkan iktikad baik dengan mendatangi manajemen rumah sakit.

Baca Juga: Tragis! RSHS Kerahkan 40 Dokter Spesialis demi Rekonstruksi Wajah Yuvita, Pemprov Jabar Kucurkan Rp1 Miliar

Pihaknya mengaku telah menyampaikan permohonan maaf secara kelembagaan dan pribadi kepada manajemen RS Leona serta seluruh tenaga kesehatan yang bertugas pada malam kejadian.

Meskipun klarifikasi dan permohonan maaf telah dilayangkan, wafatnya dr. Icha telanjur memantik evaluasi besar-besaran dari organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Kasus ini menjadi pengingat krusial mengenai urgensi jaminan keselamatan kerja, perlindungan hukum yang absolut, serta perlunya ruang kerja yang bebas dari intervensi verbal bagi para dokter muda yang mengabdi di wilayah pelosok tanah air. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni #RS Leona Kefamenanu #dokter muda meninggal NTT #kesehatan mental dokter #intimidasi anggota DPRD TTU