Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Duka Beruntun di Program SPPI, Empat Peserta Meninggal Selama Latihan Dasar Kemiliteran, Ini Penjelasan Kemhan

Ali Mustofa • Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:48 WIB
Ilustrasi Peserta Latsarmil Manajer Koperasi Merah Putih. (Kaltim Post)
Ilustrasi Peserta Latsarmil Manajer Koperasi Merah Putih. (Kaltim Post)

RADAR KUDUS – Kabar duka kembali menyelimuti pelaksanaan Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Tahun 2026.

Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, salah seorang calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil).

Kepergian Rifki menambah daftar peserta yang wafat selama menjalani pendidikan, sehingga total korban meninggal dalam program tersebut kini mencapai empat orang.

Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Kementerian Pertahanan (Kemhan), Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya Rifki.

Menurutnya, almarhum sedang menjalani pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Yon Parako 465 ketika kondisi kesehatannya memburuk.

Rico menjelaskan, pada 25 Juni 2026 Rifki sempat mengeluhkan sesak napas. Tim kesehatan satuan segera memberikan pertolongan awal dan kondisinya sempat membaik hingga ia kembali mengikuti sebagian kegiatan pendidikan.

Namun, pada sore harinya kesehatannya kembali menurun sehingga diputuskan untuk merujuknya ke Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. Esnawan Antariksa guna mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Selama menjalani perawatan di rumah sakit, Rifki mendapat penanganan intensif, termasuk dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU).

Meski tim dokter telah berupaya memberikan perawatan maksimal, nyawanya tidak dapat diselamatkan. Rifki dinyatakan meninggal dunia pada Jumat, 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB.

Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa sebelum mengikuti pendidikan, Rifki telah melalui seluruh tahapan seleksi yang berlaku, termasuk pemeriksaan kesehatan, dan dinyatakan memenuhi syarat sebagai peserta.

Setelah kejadian tersebut, Kemhan bersama penyelenggara pendidikan memberikan pendampingan kepada keluarga, mulai dari proses pemulangan jenazah ke daerah asal hingga pemenuhan hak-hak peserta sesuai ketentuan yang berlaku.

Insiden ini mendorong Kemhan bersama Panitia Seleksi Nasional melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program SPPI.

Evaluasi mencakup penyempurnaan proses seleksi kesehatan, peningkatan deteksi dini terhadap kondisi medis peserta, pengawasan yang lebih ketat oleh tenaga kesehatan selama pendidikan berlangsung, penelusuran peserta yang mengalami keluhan serupa, hingga pembaruan prosedur penanganan medis di seluruh satuan pendidikan.

Kemhan menegaskan bahwa Program SPPI merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki karakter kepemimpinan, integritas, dan semangat pengabdian untuk mendukung pembangunan nasional melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih maupun Kampung Nelayan Merah Putih.

Seluruh peserta mengikuti program tersebut secara sukarela melalui mekanisme seleksi yang telah ditetapkan.

Sementara itu, hingga Jumat (26/6/2026), tercatat empat peserta calon manajer KDKMP meninggal dunia saat menjalani Latsarmil.

Berdasarkan data yang dihimpun, mereka adalah Anisa Muyassaroh, Yonanda Muhammad Taufiq, Novia Rahmadhani Sihotang, dan Muhammad Rifki Renaldi Gunawan.

Anisa Muyassaroh diketahui mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan. Ia mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Anisa meninggal akibat heat stroke.

Korban berikutnya, Yonanda Muhammad Taufiq, menjalani pendidikan di Satdik Pusat Pendidikan dan Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad, Baturaja.

Kondisi kesehatannya menurun pada 17 Juni 2026 dan setelah mendapat penanganan medis, ia dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest atau henti jantung.

Sementara itu, Novia Rahmadhani Sihotang yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta mengalami gangguan kesehatan pada 22 Juni 2026.

Meski telah dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa dan mendapatkan perawatan intensif, Novia meninggal dunia sehari kemudian.

Hasil pemeriksaan medis menyebutkan bahwa kondisi yang dialaminya berkaitan dengan penyakit tuberkulosis (TB).

Dengan bertambahnya jumlah peserta yang meninggal, pelaksanaan Program SPPI kini menjadi perhatian publik.

Hasil evaluasi yang dilakukan pemerintah diharapkan mampu memperkuat sistem pengawasan kesehatan peserta sehingga kejadian serupa tidak kembali terulang pada pelaksanaan pendidikan berikutnya.

 

Editor : Ali Mustofa
#program sppi #calon manajer kdkmp #latsarmil #meninggal dunia