JAKARTA — Selama beberapa dekade terakhir, dunia psikologi dan sains kognitif mengenal istilah Flynn Effect, sebuah tren global yang menunjukkan bahwa rata-rata skor IQ manusia selalu meningkat dari generasi ke generasi.
Namun, untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, tren tersebut dilaporkan berbalik arah.
Sejumlah peneliti dan ahli saraf kini menyoroti sebuah fenomena tidak biasa yang terjadi pada Generasi Z (Gen Z)—kelompok yang lahir dalam rentang tahun 1997–2010.
Baca Juga: Raja Salman Kembali Gratiskan Umrah untuk 1.000 Jemaah dari 16 Negara, Indonesia Masuk Daftar Kuota
Generasi ini disebut-sebut mencatat hasil yang lebih rendah dalam sejumlah pengukuran kemampuan kognitif dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Penurunan ini memicu kekhawatiran besar di kalangan pendidik dan ilmuwan global.
Kemerosotan Multi-Indikator pada Kemampuan Berpikir
Berdasarkan berbagai studi yang dihimpun, penurunan kapasitas kognitif ini tidak hanya terjadi pada satu area spesifik saja, melainkan menyasar berbagai indikator kemampuan berpikir sekaligus.
Beberapa aspek krusial yang dilaporkan mengalami penurunan signifikan antara lain:
-
Rentang Perhatian (Attention Span): Kemampuan untuk fokus pada satu tugas dalam durasi yang lama menurun drastis.
-
Daya Ingat (Memori): Lemahnya retensi memori jangka pendek dan jangka panjang.
-
Literasi dan Numerasi: Penurunan kemampuan memahami teks kompleks serta penalaran matematika dasar.
-
Pemecahan Masalah (Problem Solving): Berkurangnya ketajaman dalam menganalisis situasi rumit.
-
Skor Tes Akademik Standar: Hasil ujian global dan nasional yang cenderung stagnan atau melorot dibanding dekade lalu.
Ahli saraf terkemuka asal Amerika Serikat, Jared Cooney Horvath, menegaskan bahwa fenomena ini menjadi anomali besar dalam peradaban manusia saat ini.
“Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah modern sebuah generasi tidak mampu melampaui capaian generasi sebelumnya dalam hal pengukuran akademik dan kognitif secara umum,” ungkap Horvath.
Efek Domino Layar Digital dan Konten Durasi Pendek
Salah satu faktor utama yang paling sering dikaitkan oleh para ahli dengan tren penurunan ini adalah tingginya paparan layar digital (screen time) sejak usia dini.
Gen Z merupakan generasi pertama yang tumbuh besar beriringan dengan adopsi penuh ponsel pintar (smartphone) dan internet berkecepatan tinggi.
Horvath menjelaskan bahwa kebiasaan mengonsumsi informasi secara instan melalui video pendek (seperti format TikTok atau Reels), rangkuman kilat, dan konten-konten singkat berpotensi besar merusak struktur kognitif otak.
Stimulasi yang terlalu cepat ini mengurangi intensitas proses belajar mendalam (deep learning).
Otak manusia tidak lagi terbiasa melakukan aktivitas kognitif berat yang biasanya diperoleh melalui membaca buku konvensional, berdiskusi dua arah secara mendalam, serta latihan berpikir kritis yang konsisten.
Sisi Lain Koin: Apakah Alat Ukur Kognitif Kita Sudah Kuno?
Meski data menunjukkan adanya penurunan, isu ini tidak serta-merta diterima secara mentah-mentah oleh seluruh komunitas ilmiah.
Baca Juga: Prancis vs Norwegia: Dayot Upamecano Siapkan Strategi Khusus Redam Ketajaman Erling Haaland
Sejumlah peneliti menilai fenomena ini masih memerlukan kajian lebih lanjut yang lebih komprehensif.
Ada argumen kuat yang menyatakan bahwa kemampuan digital, kreativitas visual, serta ketangkasan adaptasi teknologi yang dimiliki generasi muda saat ini belum sepenuhnya tercermin atau terakomodasi dalam tes kognitif dan IQ konvensional.
Dengan kata lain, bisa jadi bukan kecerdasan mereka yang menurun, melainkan jenis kecerdasan mereka yang telah berubah bentuk, sementara alat ukur yang digunakan dunia akademis masih menggunakan standar lama. (*)