Mahasiswa Jahit Mulut Saat Kunjungan Prabowo ke Lampung, Soroti Demokrasi dan Kondisi Ekonomi
Nabila Agustin• Jumat, 12 Juni 2026 | 09:18 WIB
Aksi jahit mulut saat kunjungan presiden di Lampung (Radar TV)
BANDAR LAMPUNG – Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Lampung pada Rabu (10/6/2026) turut diwarnai aksi unjuk rasa yang digelar oleh Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Eksekutif Wilayah Lampung di kawasan Bundaran Tugu Adipura, Bandar Lampung.
Aksi tersebut menjadi perhatian publik karena sejumlah mahasiswa melakukan aksi teatrikal berupa menjahit mulut menggunakan benang medis.
Simbol ini digunakan sebagai bentuk kritik terhadap kondisi demokrasi dan kebijakan pemerintah yang dinilai belum berpihak sepenuhnya kepada masyarakat.
Selain aksi simbolik tersebut, massa juga membakar spanduk berwarna hijau bercorak loreng sebagai representasi penolakan terhadap dugaan meningkatnya pengaruh militerisme dalam ruang-ruang sipil yang dianggap semakin meluas.
Koordinator aksi, Josua Sitorus, menjelaskan bahwa aksi jahit mulut mencerminkan kondisi demokrasi yang menurut mereka sedang mengalami tekanan.
“Kita melihat bagaimana suara sipil semakin terpinggirkan. Rakyat tidak memiliki kekuatan selain suara, namun itu pun sering kali tidak didengar. Budaya militer yang masuk ke ruang sipil membuat kebebasan semakin menyempit,” ujar Josua.
Ia juga menambahkan bahwa kritik yang disampaikan mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan isu demokrasi, tetapi juga menyangkut kondisi ekonomi masyarakat yang semakin sulit.
“Rakyat sedang menghadapi kesulitan hidup, sementara di sisi lain ada ketimpangan yang sangat terasa. Banyak yang harus berjuang di jalanan untuk bertahan hidup, sementara lapangan pekerjaan juga tidak memberikan kepastian bagi generasi muda,” katanya.
Dalam aksi tersebut, LMND Lampung menyampaikan lima poin tuntutan kepada pemerintah.
Antara lain penerapan pajak kekayaan bagi kelompok berpenghasilan tinggi, pendidikan gratis dan demokratis, penghentian remiliterisasi ruang sipil, perhatian terhadap dampak pelemahan nilai tukar rupiah.
Serta evaluasi terhadap sejumlah program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
Salah satu peserta aksi, Dzaki Oktarian, menjadi sorotan setelah melakukan aksi menjahit mulut sebagai bentuk protes simbolik.
Sebelum melakukan tindakan tersebut, ia sempat menyampaikan orasi yang direkam melalui pengeras suara.
“Kami merasa suara kritis masyarakat selama ini tidak benar-benar didengar. Yang terjadi justru tekanan, pembungkaman, dan berbagai bentuk pembatasan terhadap gerakan sipil,” ungkap Dzaki.
Ia menilai ruang kebebasan berpendapat di Indonesia mengalami penyempitan, sehingga aksi jahit mulut dipilih sebagai simbol kekecewaan terhadap kondisi demokrasi saat ini.
“Karena itu saya memilih untuk diam dan menjahit mulut saya sebagai simbol. Ini adalah bentuk ekspresi atas kondisi yang sudah terasa menekan dan sulit untuk disampaikan dengan kata-kata,” lanjutnya.
Selain isu demokrasi, massa aksi juga menyoroti kondisi ekonomi masyarakat.
Berbagai spanduk dibentangkan berisi kritik terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok, pelemahan rupiah, serta meningkatnya beban hidup masyarakat.
Aksi tersebut berlangsung beriringan dengan agenda kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Lampung yang menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) serta sejumlah agenda peresmian proyek pembangunan di daerah tersebut.