
JEKULO – Harapan menghadirkan Museum Lapangan Situs Ngasinan, Patiayam Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, mulai dipersiapkan seiring berlanjutnya penelitian dan ekskavasi fosil gajah purba (Elephas) oleh tim arkeolog.
Museum tersebut nantinya dirancang menjadi sarana edukasi yang menampilkan replika fosil berukuran asli, lengkap dengan informasi proses penggalian hingga lapisan tanah (stratigrafi) tempat fosil ditemukan.
Arkeolog Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Retno Handini, menjelaskan bahwa penelitian di Situs Ngasinan Patiayam merupakan kerja sama antara CPAS, Yayasan Dharma Bhakti Lestari (YDBL), dan BRIN.
Penelitian dimulai pada 2024 dan kini memasuki tahap keempat.
"Tahun ini merupakan tahap keempat. Penelitian pertama dilakukan pada 2024, kemudian dua kali pada 2025, dan sekarang kembali dilanjutkan. Rencananya penelitian di Ngasinan Patiayam selesai pada 2028," ujarnya.
Ia mengatakan, pihak penyandang dana penelitian telah memiliki gagasan untuk membangun museum lapangan di lokasi tersebut setelah rangkaian penelitian selesai.
Museum itu nantinya tidak hanya menampilkan replika fosil di lokasi secara langsung, tetapi juga menjelaskan sejarah penemuan fosil gajah purba, kondisi stratigrafi, hingga proses ekskavasi yang dilakukan para peneliti.
Menurutnya, pembangunan museum lapangan membutuhkan waktu karena harus melalui berbagai tahapan perencanaan.
Meski demikian, konsep pengembangannya telah mulai dipikirkan sejak sekarang.
"Fosil asli sudah kami amankan. Nantinya harus melalui proses konservasi agar tidak mudah rapuh. Yang akan ditampilkan kepada mayarakat berupa replika fosil dengan ukuran asli, dibuat dari bahan resin dan campuran material lainnya," jelasnya.

