Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Menolak Punah: Nestapa Pantai Kartika Sultra, Eks Ikon Wisata yang Kini Terancam Tambang

Ghina Nailal Husna • Senin, 25 Mei 2026 | 21:38 WIB
Nestapa Pantai Kartika Sultra, Eks Ikon Wisata yang Kini Terancam Tambang
Nestapa Pantai Kartika Sultra, Eks Ikon Wisata yang Kini Terancam Tambang

 

RADAR KUDUS — Pantai Kartika, sebuah permata tersembunyi di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, kini berada di titik nadir.

Kawasan yang dulunya dipuja sebagai salah satu ikon wisata alam unggulan daerah, dilaporkan mengalami kerusakan lingkungan yang masif dan parah. 

Degradasi ekologis ini ditengarai kuat sebagai dampak langsung dari masifnya aktivitas pertambangan yang kian mengepung wilayah pesisir tersebut.

Baca Juga: Irfan Hakim Ungkap Presiden Prabowo Beli Hewan Kurban Jelang Idul Adha 2026

Beberapa tahun lalu, Pantai Kartika adalah primadona. Wisatawan lokal maupun pelancong dari luar daerah berbondong-bondong datang demi menyaksikan langsung kombinasi magis antara air laut yang sejernih kristal, laguna yang tenang, dan kemegahan tebing karst yang menjulang tinggi.

Karakteristik alamnya yang asri dan relatif perawan menjadikannya sebagai destinasi pelarian sempurna dari penatnya hiruk-pikuk perkotaan.

Sektor pariwisata di kawasan ini sempat digadang-gadang akan menjadi motor penggerak ekonomi berkelanjutan bagi warga sekitar.

Namun, lanskap surgawi itu kini tinggal kenangan. Wajah Pantai Kartika berubah drastis dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan pengamatan di lapangan dan laporan dari masyarakat, bukit-bukit serta tebing karst yang menjadi benteng alam penahan ombak perlahan mulai dikupas dan dihancurkan. 

Vegetasi hijau yang dulunya rimbun menutupi kawasan tersebut kini terkikis habis, meninggalkan hamparan tanah gundul yang gersang dan rawan erosi.

Perubahan paling mencolok yang memicu keprihatinan publik adalah penurunan kualitas air laut. Aktivitas pembukaan lahan dan pengerukan material tambang di dekat pesisir menyebabkan sedimentasi tinggi saat hujan turun.

Akibatnya, air laut yang dulunya jernih dan berwarna gradasi biru-toska, kini berubah menjadi keruh dan kecokelatan.

"Setelah hutan dibuka, tebing dihancurkan, dan laut mulai keruh, apa lagi yang akan tersisa untuk generasi berikutnya?" tulis sebuah unggahan emosional dari warga net yang viral di berbagai platform media sosial, merefleksikan keputusasaan kolektif masyarakat.

Kondisi ini tidak hanya mematikan daya tarik estetika pantai untuk sektor pariwisata, tetapi juga mengancam keberlangsungan ekosistem bawah laut, termasuk terumbu karang dan biota laut yang mengandalkan penetrasi cahaya matahari untuk bertahan hidup.

Sorotan publik kini semakin tajam seiring munculnya kekhawatiran bahwa dampak kerusakan ini akan meluas bagai efek domino.

Jika tidak ada tindakan tegas atau evaluasi regulasi dari pihak berwenang, kawasan wisata lain di sekitar Konawe Selatan dikhawatirkan akan menerima nasib serupa.

Sejumlah tokoh masyarakat dan aktivis lingkungan menilai bahwa eksploitasi pertambangan di kawasan ini adalah bentuk kebijakan yang mengorbankan masa depan demi keuntungan jangka pendek.

Baca Juga: Gudang Bar Borsumy di Kota Lama Semarang Terbakar, Alami Kerugian Hingga 2 Miliar

Mereka mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait untuk segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh mengenai izin lingkungan (AMDAL) dari aktivitas tambang tersebut.

Hingga saat ini, publik terus menyuarakan desakan agar ada keseimbangan yang jelas antara pembangunan ekonomi korporasi dan pelestarian alam.

Tanpa adanya komitmen nyata untuk menyelamatkan lingkungan, Pantai Kartika terancam kehilangan statusnya secara permanen sebagai ikon wisata, dan berganti identitas menjadi monumen kehancuran ekologis di Sulawesi Tenggara. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Pantai Kartika #Tambang Sulawesi Tenggara #Kerusakan Lingkungan Pesisir #Wisata Sultra Rusak #konawe selatan