RADAR KUDUS — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan respons menohok terhadap berkembangnya narasi pesimistis terkait kondisi perekonomian domestik belakangan ini.
Menkeu mengaku heran dengan adanya sebagian kelompok masyarakat yang melontarkan persepsi bahwa situasi ekonomi nasional sedang memburuk, yang ditandai dengan isu daya beli anjlok, sulitnya lapangan kerja, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus membayangi.
Namun, setelah menelisik lebih dalam sumber dari berkembangnya opini negatif tersebut, Purbaya mengungkapkan bahwa kesimpulan ekonomi yang suram itu sebagian besar tidak berbasis pada data makro yang valid, melainkan bersumber dari opini serta analisis liar para konten kreator atau yang ia sebut sebagai "ekonom TikTok".
Data Konsumsi Domestik Tetap Menunjukkan Tren Positif
Menteri Keuangan menegaskan bahwa indikator utama perekonomian Indonesia saat ini justru menunjukkan kondisi yang kontradiktif dengan narasi yang beredar di platform video pendek tersebut.
Berdasarkan data riil yang dipegang oleh kementerian, aktivitas belanja dan konsumsi masyarakat justru masih memperlihatkan pergerakan yang sangat solid dan ekspansif.
"Konsumsi masyarakat trennya masih naik kencang. Artinya kelihatannya daya beli masyarakat nggak sejelek yang dikatakan oleh ekonom-ekonom di TikTok," ujar Purbaya saat memberikan keterangan kepada awak media.
Menurutnya, perputaran uang di sektor ritel dan tingginya angka konsumsi rumah tangga menjadi bukti autentik yang tidak bisa dibantah.
Logikanya, jika daya beli masyarakat benar-benar ambruk sebagaimana yang dinarasikan secara viral, maka angka pertumbuhan konsumsi tidak akan mungkin bergerak naik dengan kencang.
"Di sini kelihatan sekali bahwa belanja masyarakat kita masih kuat. Artinya secara keseluruhan masyarakat kita masih punya daya beli yang cukup baik," lanjut sang Bendahara Negara.
Terjebak dalam Ruang Gema Sentimen Negatif
Lebih lanjut, Purbaya menyayangkan maraknya analisis ekonomi instan di media sosial yang cenderung hanya mengeksploitasi sentimen negatif demi mendulang keterikatan (engagement) dari netizen.
Ia menilai para pengamat amatir tersebut sering kali terjebak dalam opini yang mereka buat sendiri tanpa mencocokkannya dengan realitas serta statistik resmi yang ada di lapangan.
"Jadi sebenarnya saya bingung apa yang dinilai masyarakat atau ekonom di TikTok itu. Mungkin mereka karena semangatnya negatif, akhirnya kemakan ucapan mereka sendiri.
Padahal keadaan sebetulnya begini," pungkas Purbaya, menekankan pentingnya publik untuk menyaring informasi ekonomi agar tidak terjebak dalam kepanikan yang tidak berdasar.
Melalui penegasan ini, Kementerian Keuangan mengimbau masyarakat maupun para pelaku usaha untuk tetap optimistis namun waspada, serta selalu merujuk pada rilis data otoritas resmi seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia dalam mengukur performa ekonomi nasional yang sesungguhnya. (*)