RADAR KUDUS — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyatakan bahwa Jakarta dan Semarang menghadapi risiko serius akibat dua tekanan, yaitu penurunan tanah hingga 20 cm setiap tahun dan kenaikan permukaan laut sebesar 0,8-1,2 cm per tahun.
Tanpa adanya tindakan cepat seperti pembangunan Giant Sea Wall, kedua kota ini terancam tenggelam.
Pernyataan tersebut diungkapkan AHY saat memimpin Kick Off Meeting Perlindungan Pesisir Pantura Jawa Terpadu di Jakarta pada Senin, 4 Mei 2026, dan menekankan bahwa Jakarta dan Semarang mengalami penurunan tanah yang paling parah di wilayah Pantura Jawa.
Baca Juga: Gedung Metro Sport Center Semarang Dilahap Api, Dua Orang Terjebak
Proyeksi tanpa penanganan menunjukkan bahwa akan ada genangan air laut hingga tahun 2050 akan memperburuk banjir rob yang mengancam properti dan keselamatan penduduk.
AHY menjelaskan bahwa penurunan permukaan tanah terjadi antara 1-20 cm per tahun di Pantura Jawa, dengan Jakarta dan Semarang paling merasakan dampaknya, sehingga menambah risiko banjir rob akibat kenaikan air laut yang disebabkan oleh pemanasan global.
Prediksi menunjukkan bahwa di Semarang, banjir rob bisa mencapai ketinggian 83 cm pada tahun 2050 tanpa adanya tindakan, sementara Jakarta juga terancam ancaman serupa yang dapat menghentikan aktivitas di kota tersebut.
Baca Juga: Update Haji RI 2026: 74 Ribu Jemaah Berhasil Tiba di Arab Saudi
Sebagai anggota Otorita Pesisir Utara Jawa (OPUJ), AHY menekankan bahwa penurunan tanah dan naiknya permukaan laut menjadikan daerah pesisir sangat rentan terhadap bencana serius, termasuk kerusakan pada rumah dan infrastruktur.
AHY memperingatkan bahwa jika infrastruktur seperti Giant Sea Wall tidak dibangun, 12 kabupaten/kota di Pantura berisiko terendam, dengan Jakarta, Demak, dan Semarang sebagai daerah yang paling terkena dampak, di mana Demak bahkan diperkirakan akan mengalami banjir rob setinggi 2 meter pada tahun 2050.
Keadaan ini tidak hanya meningkatkan risiko banjir, tetapi juga memperburuk masalah krisis air bersih di tengah kelangkaan yang sudah ada.
Baca Juga: Stasiun Bekasi Timur Dipenuhi Jejeran Bunga Duka Cita Pasca Tragedi
AHY menekankan pentingnya rapat koordinasi ini untuk merumuskan strategi terpadu, termasuk intervensi infrastruktur untuk menghadapi penurunan tanah sebagai masalah utama.
Dalam kesempatan ini, AHY menyatakan bahwa ekonomi Pantura senilai Rp6. 400 triliun terancam jika masalah ini tidak ditangani, terutama di Jakarta dan Semarang yang menjadi pusat aktivitas.
Proyeksi genangan air laut tanpa intervensi akan mengakibatkan banjir rob yang lebih sering dan parah, merusak properti dan menghambat pembangunan.
Baca Juga: BI Luncurkan QRIS Antarnegara Indonesia-China, Belanja di China Kini Praktis Pakai QRIS
Oleh karena itu, AHY mendorong kerjasama dari semua pihak untuk segera mewujudkan solusi seperti pembangungan tanggul raksasa demi melindungi dua kota metropolitan ini.
AHY mengakhiri pernyataannya dengan pernyataan tegas bahwa pemerintah harus mengatasi tekanan ganda ini agar Jakarta dan Semarang tidak tenggelam pada tahun 2050, sekaligus menyelesaikan krisis air yang ada.
Langkah konkret seperti pembangunan Giant Sea Wall dianggap penting dengan harapan rapat koordinasi ini menjadi awal dari tindakan nyata.
Warga Jakarta dan Semarang diingatkan untuk tetap waspada sembari menunggu implementasi rencana perlindungan pesisir yang terintegrasi. (*)
Editor : Anita Fitriani