RADAR KUDUS - Tragedi kecelakaan kereta yang terjadi di Bekasi tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga dampak psikologis mendalam bagi korban dan keluarganya. Namun di tengah situasi duka, fenomena penyebaran video dan foto kejadian justru memperparah keadaan.
Dokter spesialis kejiwaan, dr. Lahargo Kembaren, mengingatkan bahwa rasa empati seharusnya lebih diutamakan dibanding dorongan untuk membuat konten viral. Dalam banyak kasus, penyebaran gambar atau video korban justru memperpanjang penderitaan keluarga.
Trauma Tidak Hanya Dialami Korban Langsung
Dalam dunia psikologi, dikenal istilah Secondary Victimization atau trauma sekunder.
Kondisi ini terjadi ketika keluarga korban mengalami penderitaan tambahan akibat respons sosial yang tidak sensitif—termasuk penyebaran konten visual yang memperlihatkan kondisi korban secara vulgar.
Menurut berbagai literatur kesehatan mental dan lembaga seperti World Health Organization, paparan berulang terhadap gambar traumatis dapat memicu gangguan psikologis serius.
Dampak Nyata Trauma Kedua
Keluarga korban yang sedang berada dalam fase berduka bisa mengalami dampak seperti:
- Syok emosional berkepanjangan
- Sulit menerima kenyataan
- Gangguan tidur dan mimpi buruk
- Kilas balik (flashback) kejadian
- Perasaan bersalah atau marah
Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan seperti Post-Traumatic Stress Disorder, depresi, hingga kecemasan berat.
Bahaya Budaya “Viral” di Media Sosial
Di era digital, banyak orang tergoda untuk membagikan momen tragis demi perhatian atau popularitas. Padahal, tidak semua peristiwa layak dijadikan konsumsi publik.
Para ahli menegaskan bahwa menyebarkan video kecelakaan—terutama yang menampilkan korban secara jelas—tidak hanya melanggar etika, tetapi juga berpotensi merugikan secara hukum dan sosial.
Cara Menunjukkan Empati yang Tepat
Alih-alih menyebarkan konten sensitif, masyarakat bisa menunjukkan kepedulian dengan cara yang lebih bijak:
- Mengirim doa dan belasungkawa
- Membagikan informasi resmi yang akurat
- Menghormati privasi korban dan keluarga
- Tidak menyebarkan foto atau video tanpa izin
- Membantu jika dibutuhkan, bukan mengeksploitasi
Dalam banyak kasus, memilih untuk tidak mengunggah apa pun justru merupakan bentuk empati yang paling dewasa.
Peran Masyarakat dalam Melindungi Korban
Kejadian tragis seharusnya menjadi momen refleksi, bukan tontonan. Peran masyarakat sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih berempati, terutama di ruang digital.
Menghentikan penyebaran konten sensitif bukan hanya soal etika, tetapi juga bentuk perlindungan terhadap kesehatan mental keluarga korban.
Menyebarkan video kecelakaan bukan sekadar tindakan tidak bijak, tetapi juga bisa menimbulkan trauma kedua yang mendalam bagi keluarga korban.
Empati, penghormatan, dan kesadaran digital menjadi kunci agar tragedi tidak berubah menjadi penderitaan yang lebih panjang.
Editor : Mahendra Aditya