Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

WASPADA! Zona Megathrust di RI Berubah, Ini Kata Ahli Jepang

Zakaria • Rabu, 29 April 2026 | 13:56 WIB
Segmen zona megathrust di selatan Jawa dan Sumatra. (Dok. Jurnal On the potential for megathrust earthquakes and tsunamis off the southern coast of West Java and southeast Sumatra, Indonesia)
Segmen zona megathrust di selatan Jawa dan Sumatra. (Dok. Jurnal On the potential for megathrust earthquakes and tsunamis off the southern coast of West Java and southeast Sumatra, Indonesia)

RADAR KUDUS - Pemerintah secara resmi memperbarui Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024. Dokumen terbaru ini mengungkap fakta krusial mengenai peningkatan risiko tektonik di tanah air, di mana jumlah zona megathrust yang teridentifikasi kini bertambah menjadi 14 titik.

Perubahan ini menunjukkan eskalasi potensi bahaya yang signifikan dibandingkan peta edisi 2017.

Analisis terbaru memperlihatkan kontur bahaya yang semakin rapat di sejumlah wilayah, menandakan akumulasi energi yang kian besar di bawah permukaan bumi Nusantara.

Baca Juga: BMKG Waspadai Potensi Gempa Megathrust Magnitudo 8,7 di Selatan Jawa

Sorotan Pakar Jepang: Kemiripan dengan Nankai Trough

Fenomena ini menarik perhatian serius dari pakar geofisika internasional. Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University mengungkapkan bahwa karakteristik geologi Indonesia memiliki kemiripan yang mengkhawatirkan dengan Nankai Trough di Jepang, salah satu zona subduksi paling aktif dan berbahaya di dunia.

Dalam kunjungannya sebagai Visiting Researcher di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Desember 2025, Heki menjelaskan bahwa pandangan klasik mengenai siklus gempa besar (magnitudo 8 ke atas) setiap 50 hingga 100 tahun kini harus dipelajari lebih dalam. Menurutnya, kunci mitigasi saat ini bukan lagi sekadar memprediksi waktu, melainkan memantau deformasi kerak bumi.

Heki menekankan pentingnya teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS) dan pengukuran geodesi dasar laut untuk membaca seberapa kuat lempeng-lempeng bumi "saling mengunci" (interplate coupling). Fenomena slow slip event atau pergeseran lambat juga menjadi fokus, karena pergerakan halus ini seringkali menjadi indikator awal sebelum terjadinya gempa besar.

Baca Juga: SIAGA! Yogyakarta Masuki Siklus 200 Tahunan Megathrust

Daftar Potensi Magnitudo di Zona Utama

Berdasarkan data terbaru, berikut adalah sebaran potensi energi gempa pada beberapa titik megathrust utama di Indonesia:

Zona Aceh-Andaman: Mencatat potensi magnitudo tertinggi mencapai M 9,2.

Zona Megathrust Jawa: Berpotensi memicu gempa dengan kekuatan hingga M 9,1.

Zona Mentawai-Siberut: Menyimpan potensi energi hingga M 8,9.

Zona Mentawai-Pagai: Memiliki potensi kekuatan gempa maksimum M 8,9.

Zona Enggano: Teridentifikasi memiliki potensi bahaya hingga M 8,9.

 

Kewaspadaan pada 'Seismic Gap'

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan perhatian khusus pada dua wilayah yang dikategorikan sebagai seismic gap—zona yang sudah lama tidak melepaskan energi besarnya.

Data Historis Seismic Gap:

Selat Sunda: Belum mengalami gempa besar kembali sejak pecah terakhir pada tahun 1757 (sekitar 269 tahun lalu).

Mentawai-Siberut: Terakhir kali melepaskan energi besar pada tahun 1797 (sekitar 229 tahun lalu).

Meskipun istilah "menunggu waktu" sering digunakan, BMKG menegaskan bahwa hal tersebut bukan merupakan prediksi tanggal kejadian. Istilah tersebut merujuk pada fase akumulasi tegangan tektonik yang terus berlangsung. Hingga saat ini, belum ada teknologi di dunia yang mampu memprediksi dengan tepat kapan, di mana, dan berapa kekuatan gempa bumi secara spesifik.

Upaya penguatan jaringan pemantauan di sepanjang Sumatra, Jawa, Bali, hingga Maluku kini menjadi prioritas mendesak guna memberikan data presisi bagi sistem peringatan dini nasional. (*)

Editor : Zakaria
#kapan megathrust #megathrust #gempa bumi #sesar aktif #zona merah