
RADAR KUDUS - Ancaman bencana geologi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kini menjadi sorotan serius seiring dengan aktivitas tektonik di Samudra Hindia. Wilayah selatan Jawa dilaporkan telah memasuki ujung siklus 200 tahunan akumulasi energi megathrust, yang menyimpan potensi gempa berkekuatan besar.
Dewan Pembina Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa energi tektonik hasil interaksi Lempeng Indo-Australia dan Eurasia ini belum sepenuhnya terlepas. Kondisi ini menempatkan kawasan pesisir dalam risiko tinggi terdampak gempa dan tsunami.
Fakta Risiko Gempa di Wilayah Yogyakarta
Berdasarkan data geologi dan pemetaan risiko, berikut adalah poin-poin utama ancaman bencana di wilayah DIY:
Potensi Magnitudo Besar: Gempa megathrust di pesisir selatan Jawa diperkirakan dapat mencapai kekuatan magnitudo 8,7.
Ancaman Tsunami: Kekuatan gempa tersebut berpotensi memicu gelombang tsunami yang dapat menjangkau kawasan pesisir selatan.
Siklus Geologis: Wilayah ini berada di ujung siklus 200 tahunan, masa di mana akumulasi energi tektonik mencapai puncaknya.
Bahaya Sesar Darat: Selain ancaman laut, terdapat Sesar Opak di daratan dengan sistem patahan kompleks, termasuk adanya blind fault (patahan tersembunyi).
Efek Multibahaya: Kombinasi megathrust dan sesar darat menciptakan risiko bencana ganda bagi penduduk DIY.
Strategi Mikrozonasi: Memetakan Risiko hingga Level Lokal
Merespons ancaman tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY melakukan langkah proaktif melalui pemetaan mikrozonasi. Kepala Pelaksana BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, menegaskan pentingnya akurasi data wilayah terdampak.
"Kami tengah mencermati distribusi wilayah terdampak gempa untuk memastikan kesiapan masyarakat secara terukur," ujar Agustinus.


