RADAR KUDUS – Pembaruan terkini mengenai insiden kecelakaan maut yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di kawasan Stasiun Bekasi Timur menunjukkan dampak yang semakin memilukan.
Hingga Selasa (28/4/2026) siang, otoritas terkait mengonfirmasi bahwa jumlah korban meninggal dunia telah mencapai lima orang, sementara puluhan penumpang lainnya mengalami luka-luka.
Proses penyelamatan di lokasi kejadian berlangsung dramatis dan penuh tantangan. Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, hingga relawan dari PMI dan Pemadam Kebakaran harus bekerja ekstra keras karena kondisi rangkaian kereta yang ringsek parah.
Baca Juga: Badan Gizi Nasional Bantah Program Makan Bergizi Gratis Jadi Penyebab Balita Meninggal di Cianjur
Benturan keras antara kereta jarak jauh dan KRL tersebut menyebabkan gerbong-gerbong belakang KRL saling berhimpitan dan tumpang tindih.
Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa material logam yang kuat dan ruang yang sempit di dalam gerbong menjadi kendala utama bagi tim dalam menjangkau korban yang masih terjebak di dalam reruntuhan.
"Hingga saat ini, data sementara korban meninggal dunia berjumlah lima orang. Namun, angka ini belum final karena proses evakuasi masih berjalan dan kami masih melakukan penyisiran di setiap sudut gerbong yang hancur," ujar Mohammad Syafii di lokasi kejadian.
Guna mempercepat proses penanganan, ratusan personel dari berbagai instansi telah dikerahkan ke titik lokasi.
Alat berat dan peralatan pemotong logam (hydraulic cutter) digunakan secara hati-hati agar tidak membahayakan korban yang diduga masih bertahan di dalam rangkaian.
Di sisi lain, ambulans dari berbagai rumah sakit di Kota Bekasi dan sekitarnya terus bersiaga untuk membawa korban luka ke instalasi gawat darurat.
Sebagian besar korban luka mengalami patah tulang dan cedera kepala akibat benturan serta himpitan material kereta.
Kecelakaan ini mengakibatkan lumpuhnya total operasional kereta api jalur Bekasi–Cikarang. Ribuan calon penumpang terpaksa dialihkan ke moda transportasi darat lainnya.
Baca Juga: Jasa Raharja Pastikan Jaminan Penuh bagi Korban Tabrakan Kereta Api di Stasiun Bekasi Timur
Pihak PT KAI (Persero) bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga telah memulai pengumpulan data awal untuk menyelidiki penyebab pasti mengapa sistem peringatan dini atau koordinasi perjalanan tidak mampu mencegah tabrakan tersebut.
Pemerintah Kota Bekasi telah mendirikan posko darurat dan pusat informasi bagi keluarga yang mencari keberadaan kerabat mereka yang menjadi penumpang dalam kedua rangkaian kereta tersebut.
Penyelidikan intensif kini terfokus pada komunikasi antar-petugas di pusat kendali serta fungsi persinyalan di jalur padat tersebut. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna