Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

BMKG: Musim Kemarau 2026 Datang Bertahap, April Jadi Awal di Sejumlah Wilayah

Mahendra Aditya Restiawan • Minggu, 19 April 2026 | 16:34 WIB
ilustrasi musim kemarau
ilustrasi musim kemarau

RADAR KUDUS - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan musim kemarau 2026 di Indonesia tidak datang serentak.

Polanya bertahap, dimulai sejak Maret di sebagian kecil wilayah, lalu meluas pada April hingga Juni.

Data terbaru menunjukkan sekitar 7 persen zona musim (ZOM) telah lebih dulu memasuki kemarau pada akhir Maret.

Wilayah tersebut tersebar di sebagian Aceh, Sumatera, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara dan Papua Barat.

Memasuki April, percepatan transisi mulai terlihat. BMKG memperkirakan sekitar 16 persen wilayah akan masuk kemarau pada bulan ini, terutama di pesisir utara Jawa, sebagian Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, serta Nusa Tenggara.

Perubahan paling signifikan diprediksi terjadi pada Mei dan Juni. Pada Mei, sekitar 26 persen wilayah mulai mengering, disusul 23 persen lainnya pada Juni. Artinya, sebagian besar Indonesia baru benar-benar memasuki fase kemarau pada periode tersebut.

Untuk wilayah perkotaan seperti Jakarta, awal kemarau diproyeksikan terjadi pada awal hingga pertengahan Mei—sedikit lebih cepat dari pola normal. Hal ini menjadi sinyal penting bagi sektor perkotaan, terutama dalam pengelolaan air bersih dan mitigasi kekeringan.

BMKG juga menyoroti bahwa puncak kemarau nasional diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, mencakup lebih dari 60 persen wilayah Indonesia. Sementara sebagian daerah lain lebih dulu mencapai puncak pada Juli, dan sisanya pada September.

Dinamika ini tidak lepas dari pengaruh iklim global dan regional, termasuk suhu muka laut dan pola angin musiman. Oleh karena itu, masyarakat diminta terus memantau pembaruan resmi BMKG untuk mengantisipasi dampak yang mungkin muncul, terutama di sektor pertanian, energi, dan ketersediaan air.

Dengan pola yang tidak seragam, tahun 2026 menjadi pengingat bahwa kesiapan menghadapi musim kemarau harus berbasis wilayah, bukan asumsi nasional semata.

Editor : Mahendra Aditya
#puncak kemarau Indonesia #jadwal kemarau #cuaca Indonesia #prediksi bmkg #musim kemarau 2026