Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Darurat Kesehatan Jiwa Generasi Muda: Wakil Ketua MPR Desak Integrasi Kesehatan Mental dalam Kurikulum Nasional

Ghina Nailal Husna • Selasa, 14 April 2026 | 10:37 WIB
Wakil Ketua MPR Desak Integrasi Kesehatan Mental dalam Kurikulum Nasional
Wakil Ketua MPR Desak Integrasi Kesehatan Mental dalam Kurikulum Nasional

 

RADAR KUDUS – Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan serius yang mengancam kualitas generasi masa depan. 

Menanggapi fenomena meningkatnya gangguan psikologis di kalangan pelajar, Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, secara tegas mengusulkan agar kesehatan mental dimasukkan sebagai bagian inti dalam kurikulum pendidikan nasional.

Langkah ini dinilai bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah urgensi nasional untuk memitigasi risiko "generasi yang rapuh" akibat tekanan lingkungan yang semakin kompleks di era digital.

Baca Juga: Bongkar Bukti Chat, Teuku Rassya Klarifikasi Kehadiran Tamara Bleszynski di Pernikahannya: "Mama Jangan Gak Dateng"

Dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu (11/4/2026), Lestari—yang akrab disapa Rerie—memaparkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan yang sangat mengkhawatirkan.

 Pada awal tahun ini, tercatat sekitar 5% anak dan remaja di Indonesia mengalami gejala gangguan jiwa yang signifikan, dengan dominasi kasus pada depresi dan kecemasan kronis.

Data ini diperkuat oleh hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode Maret 2026. Dari total 7 juta anak yang menjalani skrining kesehatan jiwa, ditemukan fakta bahwa:

1. 363.326 anak (4,8%) menunjukkan gejala depresi klinis.

2. 338.316 anak (4,4%) mengalami gejala gangguan kecemasan (anxiety).

3. Secara akumulatif, satu dari sepuluh anak Indonesia terindikasi menghadapi masalah kesehatan mental.

Salah satu poin paling krusial yang disoroti oleh Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem ini adalah minimnya akses terhadap bantuan ahli.

 Dari ratusan ribu anak yang terdeteksi memiliki gejala gangguan jiwa, hanya 2,6% yang mendapatkan penanganan dari tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.

"Penanganan yang terintegrasi sangat krusial. Kita tidak bisa membiarkan anak-anak kita berjuang sendirian melawan tekanan mental tanpa bantuan sistemik dari negara melalui jalur pendidikan," ujar Lestari.

Lestari menjelaskan bahwa tantangan zaman saat ini, mulai dari tekanan media sosial hingga tuntutan akademik, menuntut anak-anak memiliki kemampuan manajemen emosi yang mumpuni.

Sayangnya, sistem pendidikan saat ini masih terlalu fokus pada pencapaian intelektual (IQ) dan mengabaikan kecerdasan emosional serta ketangguhan mental (SQ & EQ).

Tanpa intervensi melalui kurikulum, Indonesia berisiko kehilangan potensi emas pada tahun 2045.

Rerie menegaskan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi, tetapi dari ketangguhan psikologis manusianya.

Baca Juga: IRGC Tembakkan Peringatan Keras: Selat Hormuz Akan Dikendalikan Penuh Iran

"Untuk menjadi bangsa yang kuat, kita membutuhkan generasi penerus yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental. 

Kesehatan jiwa adalah fondasi dari setiap prestasi yang akan mereka raih di masa depan," pungkasnya.

Dengan integrasi kesehatan mental ke dalam kurikulum, diharapkan sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar teori, tetapi juga menjadi ruang aman bagi anak untuk memahami diri sendiri, mengelola stres, dan membangun resiliensi di tengah dinamika dunia yang terus berubah. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Kesehatan Mental Remaja #Kurikulum Pendidikan Nasional #Darurat Gangguan Jiwa #Resiliensi Generasi Muda #Lestari Moerdijat