RADAR KUDUS - Tanah air kini bersiap sedia menghadapi puncak kemarau yang diprediksi bakal berjalan jauh lebih awet serta gersang dari biasanya, pasca kemunculan gejala El Nino "Godzilla" di bulan April 2026. Peristiwa tersebut merupakan wujud jauh lebih ganas daripada El Nino yang sempat berdampak hebat pada 2023.
Paduan El Nino serta Indian Ocean Dipole positif diproyeksi akan memicu cuaca drastis sepanjang April hingga Oktober 2026.
Situasi ini memicu kenaikan panas muka laut di Pasifik tengah–timur, yang nantinya menghambat proses awan serta memangkas intensitas hujan di sejumlah kawasan Indonesia, utamanya selatan ekuator.
Wilayah dengan kerentanan tinggi terhadap krisis air yakni Jawa, Bali, NTB, serta NTT. Kawasan-kawasan ini berisiko menjalani kemarau berkepanjangan disertai minim curah hujan, hal ini mengancam stok air bersih maupun produksi pangan.
Baca Juga: Danantara, SMBC, dan Mandiri Kolaborasi Bangun Dana Sewa Pesawat Senilai US$800 Juta
Sepanjang pantura Jawa, fenomena El Nino saat 2023 yang memicu kekeringan parah serta gagal panen menjadi bukti ancaman serupa bisa terulang bila pencegahan tidak dimaksimalkan.
Di sisi lain, beberapa daerah di timur laut Indonesia mungkin akan menerima guyuran hujan cukup deras, kendati secara umum kemarau makin kuat meluas, sehingga tetap menyimpan potensi bahaya banjir maupun longsor.
Dampak El Nino "Godzilla" pun menyentuh bidang kesehatan, saat suhu udara ditaksir melonjak sekitar 1,5–2 derajat Celsius dari standar.
Keadaan ini berpeluang memperbesar bahaya gangguan napas, dehidrasi, serta ragam komplikasi medis terkait cuaca panas menyengat.
Pemerintah bersama instansi riset, seperti BRIN, mendesak warga serta otoritas lokal agar memperketat upaya kesiagaan, mulai pengaturan cadangan air, hemat daya, hingga mitigasi bencana, supaya Indonesia tidak sekadar mampu bertahan namun juga terbiasa menghadapi zaman cuaca ekstrem yang diramal kian kerap hadir di masa mendatang. (*)
Editor : Anita Fitriani