RADAR KUDUS – Narasi kemenangan cepat yang didengungkan oleh Gedung Putih kini berbenturan keras dengan realitas finansial yang mengejutkan.
Dalam sebuah sesi tertutup dengan Subkomite Alokasi Pertahanan Senat pada 11 Maret 2026, pejabat Pentagon mengungkapkan bahwa biaya operasional perang melawan Iran telah menelan biaya fantastis sebesar USD 11,3 miliar (sekitar Rp175 triliun) hanya dalam enam hari pertama.
Angka ini menjadi tamparan keras bagi publik, mengingat angka tersebut bahkan belum mencakup biaya amunisi yang digunakan dalam pertempuran.
Laporan yang dikonfirmasi oleh The New York Times dan NBC News merinci bahwa biaya USD 11,3 miliar tersebut murni untuk biaya operasional.
Jika variabel lain dimasukkan, angkanya melonjak drastis:
- Amunisi: USD 5,6 miliar habis hanya dalam 48 jam pertama.
- Total Estimasi 6 Hari: Minimal USD 16,9 miliar.
- Rata-rata Harian: USD 2,8 miliar (Rp43,5 triliun).
- Rata-rata Per Menit: Hampir USD 2 juta.
Sebagai perbandingan, dalam enam hari, Amerika Serikat telah menghabiskan dana yang lebih besar daripada Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan negara Islandia.
Ironisnya, pengeluaran ini terjadi tepat saat Presiden menyatakan kemenangan di Hebron, Kentucky.
Biaya perang ini tidak hanya membebani kas negara AS, tetapi juga menciptakan lubang hitam ekonomi di berbagai sektor:
- Krisis Energi: Harga minyak WTI melonjak ke angka USD 92 per barel, yang secara langsung memukul daya beli pengemudi di seluruh Amerika.
- Lumpuhnya Pariwisata: Kerugian harian pariwisata Timur Tengah mencapai USD 600 juta dengan lebih dari 30.000 pembatalan penerbangan.
- Runtuhnya Logistik: Asuransi maritim yang kolaps menyebabkan 90% tonase komersial menghilang dari Selat Hormuz.
- Cadangan Strategis: IEA terpaksa melepaskan 400 juta barel cadangan strategis yang dibangun selama puluhan tahun, yang diprediksi butuh waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan.
Data menunjukkan bahwa intensitas pembakaran uang dalam konflik Iran jauh melampaui preseden sejarah mana pun.
Perang Irak menghabiskan USD 12,5 miliar dalam bulan pertama; perang Iran melampaui angka itu hanya dalam enam hari.
Jika tingkat pengeluaran ini terus berlanjut, AS akan membakar USD 1 triliun dalam 12 bulan.
Berbeda dengan harapan pemerintah akan "ekskursi jangka pendek," komunitas intelijen justru mengonfirmasi bahwa rezim di Teheran sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan runtuh, bahkan setelah dihujani amunisi bernilai miliaran dolar.
Nilai amunisi sebesar USD 5,6 miliar yang ditembakkan AS dalam dua hari pertama lebih besar dari seluruh anggaran pertahanan tahunan Thailand. Angka itu juga melampaui anggaran militer dua tahun milik Bangladesh.
Sebanyak 120 negara di dunia memiliki anggaran militer tahunan yang lebih kecil dari biaya bom yang dijatuhkan AS hanya dalam 48 jam.
Namun, hasil dari penghancuran target tersebut dinilai belum mampu menggoyahkan stabilitas rezim Iran.
Di Capitol Hill, perpecahan politik mulai meruncing. Sementara Partai Republik mendukung langkah Presiden, Partai Demokrat mulai mempertanyakan urgensi pendanaan tambahan.
Senator Chris Coons bahkan menduga biaya sebenarnya jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan Pentagon.
Di sisi lain, terdapat ketimpangan biaya yang mencolok dalam perang asimetris ini. Saat Washington menghitung pengeluaran harian sebesar USD 2,8 miliar, para komandan militer di Teheran menyadari bahwa mereka hanya perlu meluncurkan drone Shahed seharga USD 20.000 untuk memancing respons pertahanan AS yang berkali-kali lipat lebih mahal. (*)
Editor : Ali Mustofa