RADAR KUDUS – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, terkadang kita lupa bahwa bagi sebagian orang, sepiring sayur untuk berbuka puasa adalah kemewahan yang harus ditebus dengan harga yang teramat mahal.
Sebuah tragedi memilukan baru-baru ini mengguncang Kecamatan Cugenang, menyisakan duka mendalam sekaligus tamparan keras bagi nurani kolektif kita.
Seorang pria berinisial M (56), yang sehari-hari hidup dalam garis kemiskinan, harus meregang nyawa secara tragis. Pemicunya sangat sepele: dua buah labu siam.
Pak M bukanlah seorang kriminal besar. Ia hanyalah seorang buruh serabutan yang hidupnya bergantung pada uluran tangan orang lain yang membutuhkan jasanya.
Sebagai tulang punggung keluarga, ia memikul tanggung jawab besar merawat ibunya yang sudah renta, yang kini menginjak usia 99 tahun.
Sore itu, Sabtu (28/2), suasana menjelang berbuka puasa terasa berat bagi Pak M. Sang ibu yang sudah sangat tua itu ingin berbuka dengan sayur.
Namun, kondisi kantong Pak M kosong melompong; tak ada sepeser pun uang untuk membeli bahan makanan.
Didorong oleh rasa kasih sayang dan keputusasaan agar sang ibu tidak berbuka dengan nasi putih semata, Pak M nekat mengambil dua buah labu siam di sebuah kebun.
Aksi Pak M ternyata diketahui oleh UA (40), penggarap lahan tersebut. Karena rasa takut yang luar biasa, Pak M sempat melontarkan kata maaf sebelum akhirnya lari terbirit-birit menuju rumahnya.
Namun, permintaan maaf itu tampaknya tidak cukup untuk meredam amarah UA.
UA mengejar Pak M hingga ke rumahnya. Di sanalah, aksi kekerasan terjadi. Tanpa memandang kondisi ekonomi korban maupun alasan di balik tindakannya, penganiayaan dilakukan secara membabi buta.
Setelah kejadian itu, kondisi kesehatan Pak M terus menurun drastis. Luka-luka fisik yang dideritanya ternyata jauh lebih parah dari yang terlihat.
Setelah bertahan dalam kesakitan selama dua hari, Pak M akhirnya mengembuskan napas terakhirnya pada Senin (2/3).
Ia pergi meninggalkan ibunya yang masih menanti kehadiran sang putra, tanpa pernah sempat menikmati sayur labu siam yang ia perjuangkan.
Cucum Suhenda (50), adik korban, tak mampu membendung air matanya saat menceritakan kondisi kakaknya. Ia menegaskan bahwa apa yang dilakukan Pak M murni karena himpitan ekonomi.
"Korban memang kondisi ekonominya tidak mampu. Sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan, kalau ada yang menyuruh baru kerja. Buah itu rencananya untuk makan saat berbuka puasa," ungkapnya pilu.
Tragedi ini memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat. Berapa sebenarnya harga dua buah labu siam di pasar? Barangkali tidak lebih dari sepuluh ribu rupiah.
Namun, di tangan kemarahan yang tidak terkendali, harga dua buah sayur itu mendadak setara dengan satu nyawa manusia.
Kasus ini menambah daftar panjang potret kemiskinan ekstrem di tanah air yang berujung pada tindakan main hakim sendiri.
Hukum memang harus ditegakkan, namun hilangnya rasa kemanusiaan dan empati sosial adalah "penyakit" yang jauh lebih berbahaya.
Kini, Pak M telah tiada. Kasusnya menjadi pengingat pahit bahwa di balik dinding-dinding rumah yang rapuh, ada perut-perut yang kelaparan dan harga diri yang terpaksa dikubur demi sesuap nasi.
Pihak berwenang diharapkan dapat memberikan keadilan bagi keluarga korban agar nyawa yang melayang sia-sia ini tidak sekadar menjadi angka dalam statistik kriminalitas. (*)
Editor : Ali Mustofa