Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ancaman El Niño Mengintai Indonesia, Produksi Pangan Terancam Turun dan Risiko Gagal Panen Meningkat

Ghina Nailal Husna • Jumat, 6 Maret 2026 | 19:38 WIB

 Ancaman El Niño terhadap sektor pangan Indonesia (@folkative)
Ancaman El Niño terhadap sektor pangan Indonesia (@folkative)

RADAR KUDUS – Indonesia diperkirakan akan kembali menghadapi fenomena iklim El Niño, sebuah kondisi yang dapat membawa dampak besar bagi sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional.

Fenomena ini biasanya menyebabkan penurunan curah hujan secara signifikan di berbagai wilayah Indonesia, sehingga memicu kekeringan dan musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya.

Bagi sektor pertanian, El Niño bukan sekadar perubahan cuaca biasa. Dampaknya bisa langsung dirasakan di lapangan, mulai dari kesulitan air irigasi hingga potensi gagal panen di berbagai daerah sentra produksi pangan.

Salah satu dampak utama El Niño adalah kekeringan ekstrem. Dalam kondisi ini, curah hujan di sejumlah wilayah dapat turun drastis, bahkan mencapai 40 hingga 60 persen lebih rendah dari kondisi normal.

Ketika hujan berkurang, pasokan air untuk sawah dan lahan pertanian ikut menurun. Sistem irigasi yang bergantung pada aliran sungai atau waduk menjadi tidak optimal, sehingga banyak tanaman kekurangan air.

Situasi ini biasanya paling terasa pada puncak musim kemarau, terutama pada periode Juni hingga Oktober. Tanaman padi dan komoditas pangan lainnya berisiko mengalami stres air, layu, hingga gagal tumbuh.

Dalam kondisi terburuk, banyak lahan pertanian dapat mengalami puso, yaitu kegagalan panen total akibat kekeringan.

Selain itu, El Niño juga berdampak langsung pada penurunan hasil panen dan produksi pangan. Produksi padi misalnya, dapat turun dalam jumlah yang signifikan.

Pada beberapa kejadian sebelumnya, penurunan produksi beras nasional diperkirakan mencapai ratusan ribu hingga lebih dari satu juta ton gabah kering giling (GKG).

Komoditas lain seperti jagung juga berpotensi mengalami penurunan produksi hingga ratusan ribu ton.

Salah satu penyebab utama penurunan produksi tersebut adalah berkurangnya luas panen. Di banyak daerah, lahan pertanian masih bergantung pada sistem tadah hujan, sehingga aktivitas tanam sangat bergantung pada ketersediaan air dari curah hujan.

Ketika hujan tidak turun sesuai pola normal, petani terpaksa menunda tanam atau bahkan tidak menanam sama sekali.

Fenomena El Niño juga menyebabkan gangguan pada pola musim tanam. Ketidakpastian cuaca membuat petani kesulitan menentukan waktu yang tepat untuk mulai menanam.

Jika tanam dilakukan terlalu cepat, tanaman berisiko kekurangan air di tengah pertumbuhan. Namun jika terlalu lama menunda, siklus produksi bisa bergeser dan mempengaruhi ketersediaan pangan di pasar.

Akibatnya, pasokan pangan nasional bisa menjadi tidak seimbang. Pada periode tertentu produksi menurun, sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi.

Kondisi ini dapat menimbulkan tekanan pada harga bahan pangan, terutama beras sebagai komoditas utama.

Selain kekeringan, peningkatan suhu udara selama El Niño juga memicu meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman.

Tanaman yang mengalami stres akibat kekurangan air menjadi lebih rentan terhadap serangan organisme pengganggu.

Hama seperti wereng, pengerek batang, dan ulat daun dapat berkembang lebih cepat dalam kondisi cuaca panas dan kering.

Situasi tersebut memaksa petani untuk mengeluarkan biaya tambahan untuk pengendalian hama, seperti penggunaan pestisida.

Namun, meskipun biaya produksi meningkat, hasil panen belum tentu maksimal karena tanaman sudah lebih dulu mengalami tekanan akibat kekeringan.

Dampak lanjutan dari penurunan produksi pangan adalah ketidakstabilan harga di pasar. Ketika pasokan berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga gabah dan beras berpotensi mengalami kenaikan signifikan, terutama menjelang akhir tahun.

Kondisi ini dapat memicu inflasi pangan yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat.

Di sisi lain, petani juga menghadapi risiko kerugian. Biaya produksi meningkat akibat kebutuhan air tambahan, pestisida, dan berbagai upaya adaptasi terhadap kondisi cuaca ekstrem.

Namun hasil panen yang diperoleh bisa jauh lebih rendah dari harapan.

Melihat potensi dampak tersebut, pemerintah dan berbagai pihak terkait perlu mempersiapkan langkah antisipasi sejak dini.

Perubahan iklim global diperkirakan akan membuat fenomena El Niño terjadi lebih sering dan dengan intensitas yang lebih kuat di masa depan.

Upaya adaptasi menjadi sangat penting, mulai dari pengelolaan sumber daya air yang lebih baik, penguatan sistem irigasi, hingga pengembangan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan.

Selain itu, petani juga perlu didorong untuk menyesuaikan pola tanam dengan kondisi musim, termasuk memilih komoditas yang lebih cocok ditanam pada musim kemarau.

Dengan persiapan yang matang dan koordinasi yang baik antara pemerintah, peneliti, dan petani, dampak El Niño terhadap sektor pangan diharapkan dapat diminimalkan sehingga ketahanan pangan nasional tetap terjaga. (*)

Editor : Mahendra Aditya
#indonesia #el nino