RADAR KUDUS – Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak. Di satu sisi berdiri Iran, di sisi lain berderet kekuatan besar kawasan dan global.
Di tengah situasi yang memanas, muncul pertanyaan mendasar. Mengapa negara-negara Arab yang mayoritas Muslim tidak serta-merta membela Iran?
Jawabannya jauh lebih kompleks daripada sekadar solidaritas agama. Faktor geopolitik, persaingan kepemimpinan, sejarah panjang perbedaan mazhab, hingga kepentingan ekonomi menjadi penentu utama sikap negara-negara Arab terhadap Teheran.
1. Rivalitas Kepemimpinan Kawasan
Iran selama bertahun-tahun memposisikan diri sebagai kekuatan utama di Timur Tengah. Melalui dukungan terhadap kelompok-kelompok seperti Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, dan Hamas di Gaza, Iran memperluas pengaruhnya di berbagai titik strategis kawasan.
Langkah ini dipandang oleh sejumlah negara Teluk sebagai upaya Iran untuk menjadi “pemimpin kawasan” dengan membangun jaringan proksi.
Negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait merasa ekspansi pengaruh tersebut berpotensi mengganggu stabilitas dan keamanan domestik mereka.
Bagi negara-negara Teluk, ini bukan sekadar perbedaan ideologi, melainkan persoalan keseimbangan kekuatan (balance of power).
2. Perbedaan Mazhab yang Bersejarah
Dimensi lain yang tak bisa diabaikan adalah perbedaan mazhab. Iran mayoritas beraliran Syiah, sementara sebagian besar negara Arab di Teluk beraliran Sunni.
Perbedaan ini memiliki akar sejarah ratusan tahun dan kerap menjadi faktor pemicu ketegangan politik.
Meski konflik Timur Tengah tidak semata-mata bersifat sektarian, identitas mazhab sering dimanfaatkan dalam dinamika kekuasaan dan legitimasi politik.
3. Kepentingan Nasional yang Berbeda
Sikap masing-masing negara Arab juga ditentukan oleh kalkulasi kepentingan nasional mereka.
Arab Saudi memandang dirinya sebagai penjaga dua kota suci Islam, Mekkah dan Madinah. Rivalitas dengan Iran bukan hanya soal pengaruh politik, tetapi juga legitimasi kepemimpinan dunia Islam.
Hubungan erat Saudi dengan Amerika Serikat juga didorong kebutuhan akan jaminan keamanan dan perlindungan militer.
Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) lebih mengedepankan stabilitas ekonomi. Sebagai pusat bisnis dan keuangan kawasan, UEA berkepentingan menjaga keamanan jalur perdagangan dan investasi.
Normalisasi hubungan dengan Israel menjadi bagian dari strategi pragmatis untuk memperkuat kerja sama teknologi dan pertahanan dalam menghadapi ancaman regional.
Bahrain, dengan komposisi penduduk mayoritas Syiah namun dipimpin oleh monarki Sunni, memiliki sensitivitas tersendiri terhadap pengaruh Iran.
Negara kecil ini menjadi lokasi Armada Kelima Angkatan Laut AS, sebuah langkah strategis untuk memastikan perlindungan keamanan dari potensi tekanan eksternal.
Adapun Yordania, meski bukan negara Teluk, memilih menjaga stabilitas wilayahnya. Dalam beberapa kesempatan, Yordania secara terbuka menunjukkan sikap defensif terhadap potensi eskalasi yang dapat menyeret wilayah udaranya ke dalam konflik.
4. Perubahan Persepsi terhadap Israel
Salah satu dinamika paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir adalah perubahan persepsi sejumlah negara Arab terhadap Israel.
Jika dahulu Israel dipandang sebagai musuh utama, kini ancaman Iran dinilai lebih mendesak oleh sebagian negara Teluk.
Prinsip “musuh dari musuhku adalah temanku” tampak mewarnai realitas geopolitik baru di kawasan.
Normalisasi hubungan diplomatik dan kerja sama keamanan dengan Israel dipandang sebagai langkah strategis untuk membendung pengaruh Iran.
5. Faktor Ekonomi dan Stabilitas Energi
Stabilitas ekonomi juga menjadi pertimbangan krusial. Jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz adalah nadi perekonomian negara-negara Teluk.
Setiap ancaman terhadap jalur ini, termasuk potensi penutupan oleh Iran, dapat memicu kerugian besar.
Dalam konteks ini, solidaritas ideologis kerap dikalahkan oleh kebutuhan menjaga stabilitas pasar energi dan arus perdagangan global.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam politik internasional, kepentingan nasional sering kali lebih dominan daripada identitas agama atau kedekatan kawasan.
Negara-negara Arab tidak serta-merta membela Iran bukan karena perbedaan agama semata, melainkan karena kalkulasi strategis yang mempertimbangkan keamanan, ekonomi, dan posisi geopolitik mereka.
Di tengah kompleksitas tersebut, Iran memang tampak berdiri lebih sendirian. Namun, dalam percaturan global, tidak ada kawan atau lawan yang abadi—yang ada hanyalah kepentingan yang terus berubah mengikuti dinamika kekuasaan. (*)
Editor : Mahendra Aditya