Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Update Longsor Cisarua: 53 Korban Ditemukan, Puluhan Masih Tertimbun

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 29 Januari 2026 | 07:11 WIB
Iluatrasi longsor
Iluatrasi longsor

Bandung Barat — Tragedi longsor di kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, bukan sekadar deretan angka korban.

Di balik 53 kantong jenazah yang telah dievakuasi hingga Rabu, 28 Januari 2026, tersimpan satu pertanyaan besar yang belum sepenuhnya terjawab: mengapa bencana sebesar ini kembali memakan korban dalam jumlah masif?

Memasuki hari kelima operasi pencarian, Tim SAR gabungan masih menyisir timbunan material longsor di Kampung Pasirkuning, Desa Pasirlangu.

Sebanyak 27 orang lainnya masih dinyatakan hilang, diduga tertimbun longsoran tanah yang turun dengan kecepatan dan volume tak terbayangkan.

Operasi penyelamatan dilakukan di tengah medan ekstrem, cuaca yang tak menentu, serta ancaman longsor susulan yang terus mengintai.

Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, menegaskan bahwa pencarian akan tetap dilanjutkan, namun dengan satu garis tegas: keselamatan personel adalah batas yang tak bisa ditawar.

“Kami melanjutkan operasi dengan prinsip kehati-hatian. Keselamatan tim, pengendalian risiko bencana lanjutan, serta akurasi data korban menjadi prioritas utama,” ujar Ade dalam keterangan pers di lokasi.

Pencarian di Tengah Ancaman

Tidak seperti liputan bencana pada umumnya, operasi SAR di Cisarua berjalan dalam kondisi yang jauh dari ideal. Kontur tanah yang labil, lereng curam, serta potensi pergerakan tanah lanjutan membuat setiap langkah penyelamatan harus dihitung secara presisi.

Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan, hingga unsur masyarakat setempat bekerja dalam pola rotasi ketat. Alat berat dikerahkan, namun penggunaannya dibatasi demi mencegah getaran yang bisa memicu longsor susulan.

Di lapangan, pencarian korban bukan sekadar soal kecepatan. Ini adalah perlombaan antara waktu, keselamatan, dan harapan keluarga korban yang menunggu kepastian di posko pengungsian.

Identifikasi Korban: Menyusun Kepingan Duka

Hingga Selasa (27/1/2026), Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri berhasil mengidentifikasi 37 korban dari total 38 kantong jenazah yang telah diperiksa. Proses ini melibatkan pencocokan data antemortem, sidik jari, hingga pemeriksaan medis forensik.

Identifikasi menjadi tahapan krusial, bukan hanya untuk administrasi, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada korban dan keluarga yang ditinggalkan. Setiap nama yang terkonfirmasi berarti satu keluarga akhirnya bisa mengakhiri penantian panjang yang melelahkan secara emosional.

Ade Dian menyampaikan bahwa seluruh proses dilakukan secara profesional dan transparan, memastikan tidak ada data korban yang terlewat atau keliru.

Duka yang Melampaui Statistik

Di luar data resmi, longsor Cisarua meninggalkan luka sosial yang dalam. Puluhan keluarga kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, bahkan sumber penghidupan dalam hitungan menit. Kampung yang sebelumnya hidup kini berubah menjadi hamparan lumpur dan puing.

Bencana ini kembali menegaskan bahwa wilayah Bandung Barat masih menyimpan kerentanan tinggi terhadap longsor, terutama di kawasan permukiman yang berdampingan langsung dengan lereng rawan.

Meski hujan lebat kerap disebut sebagai pemicu utama, para pengamat kebencanaan menilai ada faktor lain yang tak boleh diabaikan: alih fungsi lahan, kepadatan permukiman, serta lemahnya sistem peringatan dini berbasis risiko lokal.

Pertanyaan yang Tak Bisa Diabaikan

Longsor Cisarua memunculkan satu ironi pahit. Indonesia memiliki peta rawan bencana, kajian geologi, hingga sistem peringatan dini di atas kertas. Namun, tragedi demi tragedi menunjukkan bahwa jarak antara data dan implementasi masih terlalu lebar.

Apakah warga mendapat informasi risiko yang memadai?
Apakah mitigasi dilakukan sebelum bencana, bukan setelah korban berjatuhan?
Dan yang paling krusial: apakah pembangunan di kawasan rawan benar-benar dikendalikan?

Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa bencana alam sering kali berubah menjadi bencana kemanusiaan akibat keterlambatan pengambilan keputusan.

Komitmen SAR dan Harapan Keluarga

Di tengah kritik dan evaluasi yang mulai bergulir, Tim SAR menegaskan fokus mereka saat ini tetap satu: menemukan seluruh korban yang masih hilang. Ade Dian menyampaikan empati mendalam kepada keluarga korban dan menegaskan bahwa seluruh personel bekerja dengan pendekatan humanis.

“Kami memahami betul duka keluarga. Seluruh personel di lapangan berkomitmen bekerja maksimal, dengan tetap menjaga keselamatan,” katanya.

Bagi keluarga korban, setiap hari penantian adalah ujian mental. Harapan untuk menemukan anggota keluarga—dalam kondisi apa pun—menjadi satu-satunya pegangan di tengah ketidakpastian.

Longsor Cisarua bukan hanya peristiwa alam, melainkan cermin tentang kesiapan sistem, keberanian mengambil keputusan, dan keberpihakan pada keselamatan warga. Selama mitigasi masih kalah cepat dari pembangunan, tragedi serupa berpotensi terulang.

Kini, publik menunggu dua hal:
pertama, penuntasan pencarian korban,
dan kedua, jawaban jujur apakah negara benar-benar belajar dari duka ini.

Editor : Mahendra Aditya
#Cisarua bogor #longsor bandung barat #longsor cisarua #cisarua #longsor cisarua bandung barat #pencarian korban longsor #evakuasi korban longsor