Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Di Tengah Kontroversi, Purbaya Yudhi Tetap Dukung Thomas Djiwandono Jadi Deputi BI, Ini Alasannya

Redaksi Radar Kudus • Rabu, 21 Januari 2026 | 15:56 WIB
Purbaya Yudhi mendukung Thomas Djiwandono  (Foto: patrolypost)
Purbaya Yudhi mendukung Thomas Djiwandono (Foto: patrolypost)

RADAR KUDUS - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan dukungan kepada Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, yang diusulkan untuk menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Dukungan ini muncul meskipun adanya kontroversi di masyarakat.

Dalam komentarnya, Purbaya berpendapat bahwa peralihan Thomas dari sektor fiskal ke sektor moneter justru bisa menambah pengalaman dan memperkuat hubungan antara kebijakan pemerintah dan bank sentral.

Pencalonan Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono, yang merupakan keponakan Presiden Prabowo Subianto, untuk posisi Deputi Gubernur Bank Indonesia kini tengah menjadi perhatian publik setelah dukungan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Ia juga menegaskan bahwa kemandirian Bank Indonesia tetap akan terjaga.

Di tengah kekhawatiran tentang kemungkinan intervensi politik, Purbaya malah melihat langkah ini sebagai peluang untuk memperkuat sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Purbaya, Thomas memiliki latar belakang yang solid dalam bidang fiskal karena menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.

Ia percaya bahwa jika Thomas bergeser ke Bank Indonesia, maka ia bisa memberikan sudut pandang yang lebih luas dalam merancang kebijakan moneter.

Ia juga menyatakan bahwa peralihan ini merupakan bagian dari rotasi jabatan yang normal, yang telah mengikuti prosedur resmi, termasuk evaluasi kelayakan di DPR.

Meski demikian, pencalonan Thomas mendapatkan kritik karena adanya hubungan keluarga dengan Presiden Prabowo, yang mengkhawatirkan bahwa kemandirian Bank Indonesia bisa terancam oleh kepentingan politik.

Sejumlah analis pasar berpendapat bahwa isu ini berpotensi menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor, yang terlihat dari tekanan pada nilai tukar rupiah yang melemah, di tengah reaksi pasar terhadap kebijakan fiskal dan moneter Indonesia.

Di sisi lain, pemerintah berusaha menanggulangi keraguan dengan menjelaskan bahwa setiap individu yang berasal dari partai politik atau memiliki afiliasi politik diwajibkan untuk melepaskan posisi partai mereka ketika menjabat di Bank Indonesia.

Purbaya menekankan bahwa diperlukan koordinasi yang lebih baik antara otoritas fiskal dan moneter untuk mencapai tujuan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam beberapa tahun mendatang.

Kontroversi yang menyertai pencalonan Thomas Djiwandono menunjukkan adanya ketegangan antara kebutuhan untuk meningkatkan koordinasi kebijakan ekonomi dan kewajiban menjaga independensi bank sentral sebagai penjaga stabilitas.

Pada akhirnya, proses uji kelayakan di DPR serta transparansi pemerintah adalah kunci untuk memenuhi keraguan masyarakat dan memastikan bahwa pengisian posisi Deputi Gubernur Bank Indonesia dilakukan berdasarkan profesionalisme dan kepentingan publik yang lebih besar. (Anita Fitriani)

Editor : Ali Mustofa
#Purbaya #Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono #Deputi Gubernur Bank Indonesia #Purbaya Yudhi Sadewa #menteri keuangan