Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jago Ngobrol Tanpa Jadi Ekstrovert: Trik Bangun Percakapan yang Natural

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 15 Januari 2026 | 14:44 WIB
Mengapa Mengobrol Terasa Sulit? Ini Cara Jago Berkomunikasi Tanpa Harus Jadi Ekstrovert
Mengapa Mengobrol Terasa Sulit? Ini Cara Jago Berkomunikasi Tanpa Harus Jadi Ekstrovert

RADAR KUDUS - Pernah berada di sebuah acara kumpul atau pesta, tetapi justru memilih menyendiri sambil berpura-pura sibuk dengan ponsel karena tidak tahu harus berbincang apa?

Atau ketika bertemu orang baru, pikiran tiba-tiba kosong dan yang tersisa hanya senyum canggung.

Situasi semacam ini ternyata dialami banyak orang, terutama mereka yang tidak merasa sebagai pribadi ekstrovert.

Fenomena tersebut bukan hal yang aneh. Bahkan pakar komunikasi internasional, Vanessa Van Edwards, mengakui bahwa ia pernah membenci percakapan basa-basi.

Dalam berbagai kesempatan, ia menyebut sering menghindari obrolan ringan saat acara networking dengan berpura-pura mengecek ponsel atau mencari alasan untuk menjauh.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa kesulitan berkomunikasi bukanlah persoalan bakat semata, melainkan sesuatu yang bisa dialami siapa saja.

Banyak orang, khususnya generasi muda, merasa percakapan sosial sebagai sesuatu yang menegangkan.

Ketakutan akan kehabisan topik, jeda hening yang canggung, hingga kekhawatiran dianggap membosankan kerap menjadi penghalang.

Bagi individu yang cenderung introvert, obrolan ringan di keramaian bahkan bisa terasa melelahkan.

Secara psikologis, introvert memperoleh energi dari suasana tenang dan interaksi yang lebih mendalam, berbeda dengan ekstrovert yang justru mendapatkan energi dari keramaian dan interaksi sosial yang intens.

Namun, anggapan bahwa dunia hanya milik mereka yang supel dan cerewet sejatinya tidak sepenuhnya benar.

Kemampuan berkomunikasi bukanlah bakat bawaan sejak lahir, melainkan keterampilan yang dapat dipelajari dan dilatih.

Vanessa Van Edwards sendiri membuktikan hal tersebut dengan mempelajari komunikasi layaknya mempelajari ilmu pasti, lengkap dengan formula dan teknik yang bisa diterapkan siapa pun.

Penelitian psikologi sosial juga menunjukkan bahwa ketakutan terhadap percakapan canggung sering kali tidak terbukti.

Dalam berbagai eksperimen, percakapan dengan orang asing—baik ringan maupun sedikit mendalam—ternyata dinilai lebih menyenangkan dan bermakna dibanding ekspektasi awal.

Bahkan ketika topik mulai menyentuh hal personal, respons yang diterima umumnya hangat dan terbuka, bukan penolakan seperti yang sering dikhawatirkan.

Para ahli komunikasi menekankan bahwa kunci utama dalam berbincang bukanlah menjadi orang yang paling banyak berbicara, melainkan menjadi pendengar yang tulus.

Mark Goulston, penulis buku Just Listen, memperkenalkan prinsip Be more interested than interesting, yakni lebih fokus menunjukkan ketertarikan pada lawan bicara dibanding berusaha tampil menarik.

Dengan mendengarkan secara aktif dan mengajukan pertanyaan sederhana tentang apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dilakukan lawan bicara, seseorang dapat menciptakan kesan positif tanpa harus banyak bicara.

Selain itu, mengganti pertanyaan basa-basi dengan pertanyaan pemicu cerita juga dinilai efektif.

Pertanyaan seperti “Apa hal paling seru yang terjadi minggu ini?” atau “Proyek apa yang sedang membuatmu antusias belakangan ini?” terbukti mampu memicu respons yang lebih hidup.

Pertanyaan semacam ini merangsang emosi positif dan membuat percakapan terasa lebih berkesan.

Bahasa tubuh turut memegang peranan penting dalam komunikasi. Sikap tubuh yang terbuka, kontak mata secukupnya, serta senyum atau anggukan kecil dapat memberi sinyal bahwa seseorang tertarik dan nyaman dalam percakapan.

Menyebut nama lawan bicara secara alami juga dapat meningkatkan rasa kedekatan, karena secara psikologis nama memiliki makna personal bagi setiap individu.

Tak kalah penting, keberanian untuk membawa percakapan ke arah yang sedikit lebih mendalam dapat memperkuat koneksi.

Penelitian menunjukkan bahwa keterbukaan ringan dan kejujuran emosional sering kali menular, mendorong lawan bicara untuk ikut terbuka.

Bagi introvert, percakapan yang bermakna justru menjadi ruang di mana mereka dapat tampil lebih percaya diri.

Pada akhirnya, kemampuan berbincang membutuhkan latihan.

Memulai dari target kecil, seperti berbincang singkat dengan satu orang baru, lalu meningkat secara bertahap, dapat membantu mengurangi rasa canggung. Seiring waktu, komunikasi akan terasa lebih alami.

Oleh karena itu, menjadi jago ngobrol tidak berarti harus berubah menjadi pribadi yang paling ramai di ruangan.

Dengan menjadi pendengar yang baik, mengajukan pertanyaan yang tepat, serta membangun koneksi secara tulus, siapa pun termasuk introvert dapat menikmati percakapan dan membangun relasi sosial yang bermakna. (Ghina Nailal Husna)

Editor : Ali Mustofa
#Introvert #Ekstrovert