Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

BMKG Bunyikan Alarm! Januari–Februari 2026 Diprediksi Cuaca Ekstrem dari Bengkulu Sampai Bali—Apa Penyebabnya?

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 9 Desember 2025 | 16:01 WIB

 

Ilustrasi foto tips berkendara aman saat hujan deras
Ilustrasi foto tips berkendara aman saat hujan deras

RADAR KUDUS - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali merilis proyeksi cuaca terbaru yang menggambarkan betapa dinamisnya atmosfer Nusantara menjelang pergantian tahun.

Dalam paparan di Komisi V DPR, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani membeberkan prediksi yang seolah menjadi ‘kode keras’ agar publik bersiap menghadapi lonjakan curah hujan pada Januari–Februari 2026.

Menurut BMKG, wilayah Bengkulu, Lampung, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara akan memasuki fase puncak musim hujan pada rentang dua bulan tersebut.

Di beberapa titik, intensitas curah hujan dapat menyentuh angka ekstrem—300 hingga 500 mm per bulan, sebuah level yang biasanya menciptakan potensi banjir, longsor, hingga gangguan infrastruktur.

Namun, yang jarang disorot publik adalah kenyataan bahwa musim hujan tahun ini bukan sekadar siklus normal, melainkan dipicu oleh kombinasi fenomena atmosfer aktif yang jarang bertemu dalam satu momentum bersamaan.

KENAPA HUJAN 2026 DIPREDIKSI LEBIH PARAH?

BMKG menjelaskan bahwa dinamika cuaca akhir 2025 hingga awal 2026 dipengaruhi setidaknya enam faktor penggerak atmosfer, yaitu:

  1. Monsun Asia yang semakin matang

  2. Madden Julian Oscillation (MJO) yang menguat

  3. Hadirnya gelombang atmosfer seperti Kelvin dan Rossby

  4. Kemunculan bibit siklon di selatan Indonesia

  5. La Niña lemah

  6. IOD (Indian Ocean Dipole) negatif

Kombinasi ini menciptakan kondisi yang ideal bagi pertumbuhan awan hujan besar-besaran, terutama di wilayah Jawa, Bali, Papua, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan. Artinya, intensitas hujan akan lebih sering, lebih massif, dan berpotensi bertahan lebih lama.

Fenomena ini, kata Faisal, sudah mulai terasa sejak minggu kedua Desember 2025, namun puncaknya akan benar-benar ‘menggulung’ wilayah barat dan tengah Indonesia pada awal tahun mendatang.

WILAYAH YANG PALING MUNGKIN TERDAMPAK

BMKG mengidentifikasi sejumlah wilayah yang akan berada di ‘zona merah’ curah hujan ekstrem:

Sementara Sumatera bagian utara dan tengah telah memasuki puncak hujannya lebih awal, yakni pada Desember 2025.

Yang menarik, Kalimantan disebut hampir tak memiliki puncak musim hujan, karena wilayah itu sebenarnya basah sepanjang tahun.

FASE NATAL–TAHUN BARU: KOMBINASI CUACA BERAT

Periode liburan akhir tahun ternyata menjadi momen paling kompleks secara atmosferik. MJO yang aktif meningkatkan potensi hujan berskala besar, sementara gelombang Kelvin dan Rossby memperkuat pembentukan awan konvektif.

Akibatnya, banyak daerah mengalami hujan tiba-tiba, bahkan cenderung ekstrem.

Di saat yang sama, Bibit Siklon 93W yang berada di Laut Filipina juga ikut ‘mengocok’ stabilitas angin, meski BMKG memperkirakan akan melemah dalam beberapa hari.

ANCAMAN UNTUK PENERBANGAN & PELAYARAN

BMKG memberikan peringatan serius bagi sektor transportasi udara dan laut menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Awan Cumulonimbus (Cb) diprediksi tumbuh agresif di berbagai rute penting.

Wilayah yang harus diwaspadai Desember 2025:

Potensi Januari 2026 meluas ke:

Hampir semua rute transportasi udara–laut yang menghubungkan barat ke timur Indonesia akan berhadapan dengan peningkatan potensi turbulensi, hujan pekat, gelombang tinggi, hingga angin kencang.

GELOMBANG 2,5 METER MENGINTAI WILAYAH PANTAI

BMKG juga mengingatkan bahwa gelombang sedang setinggi 1,25–2,5 meter akan muncul di berbagai wilayah perairan:

Kondisi ini bukan hanya mengganggu pelayaran, tapi juga rawan memicu banjir rob.

BANJIR ROB NATAL–TAHUN BARU: BUKAN ANCAMAN KECIL

Fase Perigee dan Bulan Purnama menjadi pemicu utama banjir rob yang mulai terjadi sejak 29 November. Tinggi muka air laut meningkat signifikan dan melanda:

Sebagian wilayah, termasuk Jakarta utara, telah merasakan efeknya lebih cepat, dan potensi ini diperkirakan terus berlangsung hingga 15 Desember.

APA YANG PUBLIK PERLU SIAPKAN?

Meski kondisi ekstrem tidak bisa dihentikan, masyarakat bisa meminimalkan dampaknya dengan:

• Memantau informasi BMKG harian
• Menghindari perjalanan laut berisiko tinggi
• Mengamankan dokumen penting dari potensi banjir
• Mewaspadai potensi longsor di daerah perbukitan
• Tidak memaksakan perjalanan jika sudah ada peringatan cuaca

Musim hujan kali ini bukan musim hujan biasa—ini adalah fase atmosfer aktif yang saling bertemu, yang secara historis sering menjadi penanda meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologi.

Editor : Mahendra Aditya
#puncak hujan #cuaca ekstrem #musim hujan #bmkg