Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Aceh Tengah Krisis Energi, Panic Buying BBM Lumpuhkan Penanganan Bencana

Ali Mustofa • Senin, 1 Desember 2025 | 21:04 WIB
JALINSUM: Banjir di Jalinsum Medan-Aceh, tepatnya di Desa Cempa, Kecamatan Hinai, Langkat.
JALINSUM: Banjir di Jalinsum Medan-Aceh, tepatnya di Desa Cempa, Kecamatan Hinai, Langkat.

RADAR KUDUS – Kepanikan warga Aceh Tengah dalam membeli bahan bakar minyak (BBM) membuat seluruh stok di wilayah tersebut benar-benar habis.

Kondisi ini memperparah situasi penanganan banjir bandang dan longsor yang tengah melanda daerah itu, sebab ketersediaan energi menjadi penopang utama untuk evakuasi, komunikasi, serta layanan kesehatan.

Situasi ini terjadi setelah beredarnya Surat Pernyataan Bupati Aceh Tengah mengenai ketidakmampuan daerah dalam menangani keadaan darurat bencana hidrometeorologi.

Baca Juga: Sembilan Tangga Kehidupan ala Pertanian: Percaya Diri sebagai Pondasi Pertumbuhan Hidup

Informasi tersebut memicu warga untuk berbondong-bondong membeli BBM sejak Minggu (30/11), terlebih akses keluar–masuk Aceh Tengah masih terputus.

Antrean kendaraan mengular hampir tiga kilometer di sejumlah SPBU. Masyarakat saling berebut mendapatkan sisa BBM karena khawatir distribusi akan berhenti total.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Aceh Tengah, Jauhari, mengungkapkan bahwa aksi panic buying membuat ketersediaan energi kritis benar-benar tidak tersisa.

“BBM untuk mengoperasikan genset evakuasi dan kebutuhan RSUD Datu Beru sudah habis sama sekali,” katanya, dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, Senin (1/12).

Kekosongan BBM ini menimbulkan efek domino yang membahayakan warga.

Peralatan pencarian korban yang bergantung pada generator di desa-desa terisolir tak lagi dapat dioperasikan, sehingga memperlambat bantuan dan proses penyelamatan.

RSUD Datu Beru, yang menampung pasien luka akibat bencana, ibu hamil, serta warga dari lokasi yang terisolasi, kini berada dalam kondisi paling rawan.

Baca Juga: Sembilan Tangga Kehidupan ala Pertanian: Percaya Diri (Akar), Penopang Pertumbuhan yang Tak Terlihat

Tanpa pasokan BBM untuk genset, fasilitas medis vital dapat terhenti kapan saja.

Untuk menghindari meluasnya krisis kemanusiaan, Pemerintah Kabupaten mendesak agar pasokan BBM dapat dikirim melalui jalur udara, mengingat akses darat masih benar-benar lumpuh.

Selain energi, ketersediaan pangan juga masuk dalam status darurat daerah.

Sementara itu, Surat resmi dengan nomor 360/565/BPBD/2025 yang ditandatangani Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, pada 27 November 2025, menyebutkan bahwa daerah tersebut tidak lagi mampu menangani darurat bencana secara mandiri.

Dalam surat itu dijelaskan bahwa banjir bandang, banjir luapan, serta tanah longsor telah menewaskan sedikitnya 15 orang, sementara 3.123 kepala keluarga terpaksa mengungsi. Jumlah tersebut terus meningkat seiring meluasnya dampak bencana.

Data terbaru yang disampaikan Bupati Haili Yoga pada Minggu (30/11) menunjukkan situasi yang jauh lebih berat.

Total pengungsi melonjak menjadi 54.199 jiwa. Selain itu, 21 orang dinya

takan meninggal dunia, 24 hilang, dan 779 rumah mengalami kerusakan berat. Sebanyak 14 kecamatan terisolir akibat terputusnya 59 ruas jalan.

Meski bantuan udara telah masuk, jumlahnya masih jauh dari cukup untuk menutup kebutuhan mendesak di lapangan.

Minimnya energi, kerusakan infrastruktur, serta terbatasnya tenaga kesehatan menempatkan Aceh Tengah dalam kondisi darurat ekstrem.

“Kami memohon uluran tangan dari seluruh pihak. Dengan kebersamaan, kami percaya Aceh Tengah dapat bangkit kembali,” ujar Haili Yoga.

Editor : Ali Mustofa
#banjir bandang #kendaraan #BBM #aceh #longsor