Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Scroll Tanpa Henti: Fenomena Digital yang Dipicu Dopamin

Redaksi Radar Kudus • Rabu, 19 November 2025 | 21:39 WIB
Photo
Photo

Radar Kudus - Banyak orang tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menggulir media sosial. Bahkan ada yang berkali-kali memutar ulang Instagram Story sendiri, mengecek apakah unggahan sudah terlihat menarik, hingga menunggu notifikasi like atau komentar masuk.

Kebiasaan tersebut ternyata bukan sekadar hobi atau kesenangan biasa, melainkan memiliki keterkaitan dengan respons biologi manusia. Pakar Digital PR, Rob Phelps, menjelaskan bahwa dorongan untuk mengejar like dan komentar muncul dari kebutuhan emosional manusia untuk diakui dan merasa diterima secara sosial.

Menurut Rob, media sosial memperkuat kebutuhan tersebut karena memberikan akses cepat terhadap validasi kapan pun dan di mana pun. Alhasil, sebagian pengguna merasa sulit berhenti dan terus mencari rangsangan baru melalui konten.

Peran Dopamin dalam Kebiasaan Scroll

Saat seseorang menerima komentar atau like, tubuh melepaskan dopamin—zat kimia di otak yang menimbulkan rasa senang. Efeknya mirip dengan sensasi membeli barang baru atau menerima pesan dari seseorang yang disukai.

Namun berbeda dengan rasa senang dari aktivitas nyata, validasi digital bersifat tidak terduga. Ketidakpastian inilah yang membuat otak terus berharap ada notifikasi baru. Kondisi tersebut memicu perilaku berulang seperti mengecek timeline, mengejar engagement, hingga kecanduan ponsel.

"Like dan komentar kini menjadi ‘mata uang status sosial’ di dunia digital," ungkap Rob, dikutip dari Unilad. Ia menambahkan bahwa kenaikan engagement memberi dorongan kepercayaan diri, sedangkan unggahan dengan reaksi rendah bisa membuat seseorang merasa tidak cukup baik.

Efek Perbandingan Sosial

Dampak lain dari interaksi digital adalah munculnya kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Studi menunjukkan bahwa membandingkan jumlah like atau komentar dapat meningkatkan kecemasan dan menurunkan rasa percaya diri.

Rob mencontohkan, seseorang bisa merasa kecewa ketika unggahannya mendapatkan sedikit interaksi, sedangkan teman lain dengan konten serupa mendapat lebih banyak perhatian.

Meski secara logis orang memahami bahwa angka engagement bukan ukuran nilai diri, secara emosional hal tersebut dapat menimbulkan rasa tersisih atau ditolak.

Fenomena ini tidak hanya dialami remaja, tetapi juga orang dewasa, orang tua, hingga kalangan profesional yang aktif menggunakan platform digital.(laura)

Editor : Mahendra Aditya
#Dampak media sosisal #Kecandua media sosial #Dopamin #Like dan Komentar #Validasi digital