REMBANG - Sejumlah bengkel di Rembang mengaku kebanjiran keluhan motor tersendat-sendat atau berebet dalam sepekan terakhir ini.
Salah satunya di bengkel Depo, mereka mengaku banyak pelanggan yang datang dengan gejala, seperti tarikan gas tersendat, mesin sering mati mendadak, dan starter sulit hidup.
Muhlisin mekanik bengkel Depo menduga kualitas Pertalite menjadi penyebab utama kerusakan pelanggannya. "Baunya seperti bensin campur air," ujarnya.
Atas kondisi tersebut, ia pun melakukan penanganan sederhana dan efektif yakni dengan mengganti busi yang dapat menyembuhkan gejala pada sebagian besar kasus.
"Kemarin ada, tapi saya ganti busi sedikit sudah sembuh," ujar Muhlisin, yang menambahkan bahwa biaya cukup terjangkau untuk mengganti busi, hanya sekitar Rp35 ribu.
Muhlisin juga menyarankan agar pelanggan menguras tangki sepenuhnya dan beralih ke Pertamax untuk pencegahan jangka panjang. "Sebaiknya ganti. Pertalite dikuras, diganti Pertamax," tegasnya.
Meski keluhan melimpah dan bengkel ramai, Muhlisin menegaskan belum ada kasus yang memerlukan penggantian pompa bensin atau rusak hanya karena kualitas bensin yang jelak .
“Kalau tekanannya memang lemah ya diganti. Itu tergantung pemeriksaan, bukan efek langsung dari bensin campuran,” katanya.
Fenomena ini tak hanya dialami Bengkel Depo. Ia menyebutkan teman-teman seprofesinya juga kebanjiran order serupa. “Banyak, bengkel-bengkel lain juga,” tambahnya.
Sementara itu, Pengawas SPBU di Rembang Kota yang enggan dikorbankan namanya membantah adanya pencampuran air atau zat lain dalam pertalite. Ia memastikan bahwa pasokan pertalite saat ini diambil dari depot Semarang dan telah berjalan lancar selama empat hari terakhir.
"Pasokan Pertalite saat ini dari Semarang, bukan Tuban seperti isu yang beredar sebelumnya," kata.
Pengawas SPBU tersebut juga meminta masyarakat yang memiliki aduan untuk menyampaikannya secara resmi, bukan melalui media sosial. "Harapannya masyarakat bisa menyampaikan aduan secara resmi, dengan menyertakan bukti pembelian di mana dan jam berapa," ujarnya.
Ia mengakui penjualan pertalite sepakan ini memang mengalami sedikit penurunan, namun masih banyak masyarakat yang memilihnya karena harganya yang terjangkau. “Sebaliknya Pertamax sedikit meningkat,” pungkasnya. (noe/ali)
Editor : Mahendra Aditya