Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Update Harga BBM Non-Subsidi Oktober 2025: Dexlite dan Pertamina Dex Naik Lagi, BBM Swasta Ikut Terkerek: Siap-Siap Dompet Makin Tipis!

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 7 Oktober 2025 | 00:22 WIB
ilustrasi isi BBM
ilustrasi isi BBM

RADAR KUDUS - Awal bulan Oktober 2025 membawa kabar baru bagi masyarakat pengguna kendaraan bermotor. Harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi resmi mengalami penyesuaian naik, baik di SPBU Pertamina maupun operator swasta seperti Shell, BP, dan Vivo.

Kenaikan ini tak bisa dihindari, mengingat tren harga minyak mentah dunia yang terus menanjak sejak pertengahan September.

Menurut catatan resmi PT Pertamina (Persero), dua jenis BBM diesel non-subsidi menjadi sorotan utama: Dexlite kini dipatok Rp13.700 per liter dari sebelumnya Rp13.600, sedangkan Pertamina Dex naik lebih tinggi menjadi Rp14.000 per liter.

Sementara itu, jenis bensin Pertamax masih bertahan di Rp12.200, Pertamax Turbo Rp13.100, dan Pertamax Green Rp13.000.

Adapun BBM bersubsidi masih stabil: Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Solar subsidi Rp6.800. Hal ini menjadi kabar baik bagi jutaan masyarakat kecil yang masih sangat bergantung pada bahan bakar bersubsidi.

Persaingan Harga Antar SPBU: Pertamina vs Swasta

Kenaikan tidak hanya terjadi di Pertamina. SPBU swasta pun turut mengerek harga. Di Shell, harga BBM per 1 Oktober 2025 antara lain: Super Rp12.890, V-Power Rp13.420, V-Power Diesel Rp14.270, dan Nitro+ Rp13.590.

BP juga tak mau ketinggalan: BP 92 Rp12.890, BP Ultimate Rp13.420, serta BP Ultimate Diesel Rp14.270. Sementara Vivo menampilkan tarif Revvo 90 Rp12.810, Revvo 92 Rp12.890, Revvo 95 Rp13.420, dan Diesel Primus Plus Rp14.270 per liter.

Dengan angka tersebut, terlihat jelas bahwa harga BBM di SPBU swasta relatif sejalan dengan Pertamina. Persaingan justru lebih banyak pada strategi layanan, promo, dan lokasi SPBU. Bagi masyarakat, pilihan bergantung pada ketersediaan, kualitas bahan bakar, dan kenyamanan.

Mengapa Harga BBM Naik?

Faktor utama di balik kenaikan ini adalah gejolak harga minyak mentah global. Sejak pertengahan September 2025, harga minyak dunia mengalami tren kenaikan akibat tingginya permintaan, gangguan pasokan di Timur Tengah, dan kebijakan pengurangan produksi dari negara produsen besar.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatur mekanisme harga BBM non-subsidi mengikuti pergerakan minyak dunia.

Artinya, setiap awal bulan masyarakat harus siap dengan penyesuaian harga—bisa naik, bisa turun. Untuk Oktober 2025, tren yang terjadi jelas: harga terkerek naik.

Dampak Langsung ke Masyarakat

Kenaikan harga BBM non-subsidi jelas membawa konsekuensi ke kantong masyarakat kelas menengah, terutama mereka yang menggunakan kendaraan pribadi dengan konsumsi tinggi.

Biaya transportasi harian otomatis meningkat, yang dalam jangka panjang bisa mendorong kenaikan harga barang kebutuhan pokok karena biaya distribusi juga ikut membengkak.

Sementara itu, masyarakat pengguna BBM bersubsidi masih bisa sedikit bernapas lega. Pertalite dan Solar subsidi masih bertahan pada harga lama, meski tekanan fiskal pemerintah semakin berat jika tren minyak dunia terus naik.

Tak heran, sebagian masyarakat kini mulai lebih selektif dalam memilih jenis BBM. Ada yang beralih ke Pertalite demi menekan pengeluaran, meski kualitas oktan berbeda. Ada pula yang tetap setia ke Pertamax atau Dexlite karena mengutamakan performa mesin.

Strategi Hemat di Tengah Kenaikan

Dalam kondisi harga BBM naik, masyarakat dianjurkan untuk lebih bijak menggunakan kendaraan. Beberapa strategi yang bisa diterapkan antara lain:

Langkah sederhana ini bisa membantu mengurangi beban biaya transportasi, setidaknya sampai ada penyesuaian harga berikutnya.

Prospek ke Depan: Naik atau Turun Lagi?

Pertanyaan besar yang muncul di benak masyarakat tentu: apakah harga BBM akan terus naik? Analis energi menilai, selama ketegangan geopolitik dan kebijakan pengurangan pasokan global masih berlangsung, harga minyak mentah berpotensi tetap tinggi.

Jika tren ini bertahan, hampir pasti harga BBM non-subsidi di Indonesia akan kembali naik pada periode selanjutnya.

Sebaliknya, jika ada perbaikan pasokan global, ada peluang harga turun. Namun, pemerintah menekankan bahwa semua penyesuaian dilakukan sesuai regulasi ESDM, bukan semata-mata keputusan sepihak.

Bagi konsumen, yang terpenting adalah bersiap dengan skenario terburuk: mengantisipasi lonjakan harga berikutnya dengan efisiensi dan perencanaan keuangan.

Kenaikan harga BBM non-subsidi di Oktober 2025 menjadi cerminan nyata betapa volatilnya energi global.

Pertamina, Shell, BP, hingga Vivo kini seragam menyesuaikan harga. Dampaknya langsung terasa bagi masyarakat pengguna kendaraan pribadi.

Meski Pertalite dan Solar subsidi tetap stabil, beban pengeluaran kelas menengah tetap meningkat.

Solusi sementara ada pada efisiensi konsumsi dan pemanfaatan transportasi umum.

Namun, dalam jangka panjang, tantangan lebih besar menanti: bagaimana Indonesia mampu menjaga stabilitas energi sekaligus melindungi daya beli rakyat di tengah gejolak global.

Editor : Mahendra Aditya
#pertamina dexlite #Harga BBM Shell 2025 #Harga BBM Oktober 2025 #pertamina dex naik #BBM Non Subdisi #Pertamina Dex #harga dexlite #Harga Dexlite dan Pertamax Turbo #harga bbm #harga bbm shell #harga Dexlite terbaru