RADAR KUDUS - Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia Komjen Pol Marthinus Hukom mengungkap fenomena unik terkait kerja sama antara warga negara asing (WNA) asal Rusia dan Ukraina dalam jaringan narkoba di Bali.
“Ini fenomena yang sangat unik. Dua negara yang sedang berperang Rusia dan Ukraina tapi di Bali justru warganya bekerja sama melakukan kejahatan, yaitu perdagangan narkoba” ujar Marthinus saat menyampaikan kuliah umum di depan ribuan mahasiswa di Auditorium Widya Sabha Universitas Udayana pada Selasa.
Marthinus menjelaskan para pelaku menggunakan teknologi canggih untuk mengelabui petugas.
Salah satunya adalah teknologi blockchain yang memungkinkan transaksi berlangsung tanpa terdeteksi secara langsung.
Tak hanya itu mereka juga menggunakan media sosial seperti Instagram dengan menggunakan kode-kode tertentu yang hanya dimengerti oleh anggota jaringan mereka.
Komunikasi dilakukan dengan sistem jaringan terputus (tidak langsung) sehingga sulit dilacak.
“Transaksi narkoba ini terjadi di media sosial. Setelah ada kesepakatan pembayaran dilakukan melalui mata uang digital (cryptocurrency)," ujarnya.
"Mereka tidak pernah bertemu secara langsung. Penyerahan barang dilakukan lewat titik koordinat, dan hanya berlangsung dalam waktu dua menit. Ini sangat sulit diungkap” jelasnya.
Marthinus mengaku belum mengetahui pasti apa yang membuat warga Rusia dan Ukraina bisa bekerja sama meski negara mereka sedang berkonflik.
Namun ia menduga tingginya permintaan narkoba di Bali menjadi salah satu faktor yang mendorong mereka melakukan kejahatan tersebut.
“Ini menjadi perhatian serius bagi BNN. Karena itu, kami juga menjalin kerja sama dengan pemerintah Rusia untuk mengungkap jaringan narkoba ini” tegasnya.(kholissofiyana)
Editor : Ali Mustofa