Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa pihaknya terus mencermati perkembangan terbaru di kawasan tersebut.
Penutupan Selat Hormuz saat ini masih bersifat wacana, terutama menyusul konflik yang memanas antara Iran dan Israel, serta keterlibatan Amerika Serikat dalam ketegangan tersebut.
“Pihak kami masih memantau wacana penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Mengingat, hingga saat ini belum ada keputusan resmi yang diambil,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Tri Winarno.
Sebagai negara yang sebagian kebutuhan energinya masih bergantung pada impor minyak, Indonesia tentu tidak menutup mata terhadap potensi risiko yang dapat mengganggu rantai distribusi global.
Namun demikian, ESDM memastikan bahwa pemerintah akan mengambil langkah antisipatif untuk menjaga pasokan tetap stabil dan tidak mengganggu kebutuhan dalam negeri.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik strategis dunia karena menghubungkan negara-negara produsen minyak utama di Teluk Persia dengan pasar global.
Jika jalur ini terganggu, bukan tidak mungkin akan berdampak pada lonjakan harga minyak global, termasuk potensi inflasi energi di Indonesia.
Untuk itu, pemerintah melalui ESDM menyiapkan berbagai skenario dan koordinasi lintas lembaga guna memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga, termasuk strategi diversifikasi pasokan dan penguatan cadangan strategis. (Labib Azka)