Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

16 Zona Megathrust Kelilingi Indonesia, Ini Daftarnya!

Zakarias Fariury • Kamis, 1 Mei 2025 | 19:06 WIB
Ilustrasi Gempa
Ilustrasi Gempa

RADAR KUDUS - Tanpa suara, tanpa peringatan, ancaman dahsyat terus mengintai Indonesia dari dasar samudra.

Negara kepulauan ini dikepung oleh 16 zona megathrust wilayah pertemuan lempeng tektonik yang berpotensi “pecah” kapan saja, memicu gempa bumi besar dan tsunami mematikan.

Megathrust merupakan titik temu antar-lempeng tektonik Bumi yang menyimpan energi dalam jumlah luar biasa.

Energi ini bisa terakumulasi selama ratusan tahun sebelum dilepaskan dalam bentuk guncangan seismik.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengungkapkan kekhawatiran terhadap dua zona yang sudah lama tak menunjukkan aktivitas besar: Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut.

“Kondisi kedua zona ini mirip dengan kekhawatiran ilmuwan Jepang terhadap Megathrust Nankai. Sudah ratusan tahun tidak ada gempa besar, artinya potensi pelepasan energi sangat besar,” ujar Daryono.

Fenomena ini dikenal sebagai seismic gap, yaitu wilayah yang belum mengalami pelepasan energi gempa dalam waktu yang sangat lama.

Meski tampak tenang di permukaan, tekanan terus menumpuk di kedalaman.

Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017, Megathrust Selat Sunda terakhir kali mengalami gempa besar pada tahun 1699 dan 1780 dengan magnitudo 8,5.

Sementara Megathrust Mentawai-Siberut pernah memicu gempa besar masing-masing pada tahun 1797 (M 8,7) dan 1833 (M 8,9).

Namun, kedua zona itu bukan satu-satunya sumber potensi bencana.

Indonesia memiliki 16 segmen megathrust yang tersebar dari Sumatra hingga Papua, beberapa di antaranya sudah menunjukkan tanda-tanda pergeseran.

Berikut daftar lengkap zona megathrust di Indonesia:

- Andaman-Sumatra (M 9,2)

- Nias-Simeulue (M 8,9)

- Batu (M 8,2)

- Mentawai-Siberut (M 8,7)

- Mentawai-Pagai (M 8,9)

- Enggano (M 8,8)

- Selat Sunda-Banten (M 8,8)

- Jawa Barat (M 8,8)

- Jawa Tengah–Jawa Timur (M 8,9)

- Bali (M 9,0)

- NTB (M 8,9)

- NTT (M 8,7)

- Laut Banda Selatan (M 7,4)

- Laut Banda Utara (M 7,9)

- Sulawesi Utara (M 8,5)

- Filipina-Maluku (M 8,2)

Setiap zona ini memiliki slip rate atau kecepatan pergeseran sekitar 4 sentimeter per tahun—angka kecil, namun jika dikalikan dengan waktu selama berabad-abad, potensi energi yang dilepaskan sangat besar.

BMKG menegaskan bahwa hingga kini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara akurat kapan zona megathrust akan “pecah”.

Namun, potensi magnitudo dan wilayah terdampak dapat dihitung sebagai bagian dari mitigasi.

Yang menjadi perhatian khusus adalah Pulau Jawa, rumah bagi lebih dari separuh populasi Indonesia.

Jika zona megathrust di selatan Jawa aktif, beberapa studi memperkirakan tsunami bisa mencapai ketinggian puluhan meter, melanda wilayah padat penduduk di pesisir.

Menyikapi potensi ini, BMKG menyerukan peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Edukasi kebencanaan, pemetaan risiko, dan pembangunan infrastruktur tahan gempa menjadi langkah krusial yang tidak bisa ditunda.

“Bencana memang tak bisa dicegah, tapi dampaknya bisa diminimalkan jika kita siap,” kata Daryono.

Dalam lanskap geologi yang terus bergerak, kesiapan menjadi kunci penyelamatan. Indonesia tak boleh lengah. (*)

Editor : Ali Mustofa
#Cara Selamat dari Megathrust #dimana megathrust #potensi terdampak megathrust #lokasi megathrust #waspada megathrust #daerah megathrust #ancaman gempa bumi megathrust #pengertian Megathrust #wilayah megathrust #bmkg #ancaman Megathrust #gempa megathrust bmkg