
RADAR KUDUS – Penyakit beri-beri sejak lama dikenal masyarakat sebagai gangguan kesehatan yang ditandai dengan tubuh mudah lemas, pembengkakan pada kaki atau bagian tubuh lain, serta penurunan stamina.
Dalam tradisi masyarakat, selain pengobatan medis, dikenal pula ikhtiar sederhana berupa doa dan pengaturan makanan yang dipercaya membantu memulihkan kondisi tubuh.
Amalan ini diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk usaha lahir dan batin untuk menjaga
Beri-beri umumnya ditandai dengan pembengkakan pada tubuh yang bila ditekan tidak segera kembali seperti semula.
Kondisi ini membuat penderita merasa lemah dan tidak bertenaga. Dalam pemahaman tradisional, penyakit ini dibedakan menjadi dua jenis, yakni beri-beri basah dan beri-beri kering.
Gejala yang muncul kerap dianggap sebagai sinyal tubuh bahwa asupan gizi tidak terpenuhi secara optimal.
Sehingga diperlukan perbaikan pola makan serta ikhtiar doa sebagai bentuk permohonan kesembuhan.
Amalan Selawat Sebelum Makan dan Terapinya
Dalam tradisi masyarakat, langkah pertama yang dilakukan sebelum menjalani terapi makanan adalah membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW sebanyak 21 kali sebelum sarapan.
Selawat diyakini sebagai bentuk doa yang menghadirkan keberkahan, sekaligus menumbuhkan keyakinan bahwa setiap usaha penyembuhan perlu disertai harapan kepada Allah SWT.



