RADAR KUDUS - Indonesia kembali diingatkan akan ancaman laten dari perut bumi. Negara kepulauan ini dikepung oleh zona megathrust wilayah pertemuan lempeng tektonik yang menyimpan potensi gempa dahsyat dan tsunami mematikan.
Megathrust bukan sekadar istilah geologi. Ia adalah pengingat nyata akan kekuatan alam yang mengintai dari bawah laut.
Di zona ini, lempeng-lempeng tektonik terus bergerak dan saling menghujam, menumpuk energi selama ratusan tahun sebelum akhirnya dilepaskan dalam bentuk gempa bumi besar.
"Terjadinya gempa megathrust karena adanya hambatan antar-bidang lempeng, sedangkan lempeng terus bergerak," ujar Amien Widodo, peneliti senior dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS, dalam keterangannya.
Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng besar: Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia. Ketiganya terus bergerak dengan kecepatan 2 hingga 10 sentimeter per tahun.
Akumulasi energi dari gerakan ini berpotensi memicu gempa megathrust, terutama di wilayah-wilayah yang lama tidak mengalami pelepasan energi.
Baca Juga: Breaking News! BMKG Peringatkan Kembali tentang Gempa Megathrust yang Ancam Indonesia. Kapan?
Sumatera: Titik Merah Megathrust Indonesia
Dari 16 zona megathrust yang tercatat dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017, enam berada di Sumatera. Wilayah ini menjadi titik merah dengan potensi gempa terbesar di Indonesia.
Berikut enam segmen megathrust di Sumatera beserta potensi kekuatannya:
1. Andaman-Sumatera – M 9,2 (pergeseran 4 cm/tahun)
2. Nias-Simeulue – M 8,9 (pergeseran 4 cm/tahun)
3. Batu – M 8,2 (pergeseran 4 cm/tahun)
4. Mentawai-Siberut – M 8,7 (pergeseran 4 cm/tahun)
5. Mentawai-Pagai – M 8,9 (pergeseran 4 cm/tahun)
6. Enggano – M 8,9 (pergeseran 4 cm/tahun)
Tak hanya potensi kekuatan gempa, kawasan-kawasan ini juga berisiko tinggi terhadap tsunami dengan ketinggian yang bisa mencapai puluhan meter.
Dalam catatan sejarah, Sumatera dikenal sebagai salah satu zona gempa paling aktif di dunia. Dalam 140 tahun terakhir, gempa bermagnitudo 6,5 hingga 9 telah berulang kali mengguncang wilayah ini.
Seismic Gap: Bom Waktu di Laut
BMKG menyoroti dua zona megathrust yang dianggap sebagai “bom waktu”: Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut.
Keduanya masuk dalam fase seismic gap—zona yang belum mengalami gempa besar selama ratusan tahun.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyebut bahwa rilis energi di kedua wilayah ini tinggal menunggu waktu.
"Segmen Megathrust Mentawai-Siberut terakhir melepaskan energi besar pada tahun 1833. Sementara Megathrust Selat Sunda terakhir tercatat aktif pada 1699 dan 1780. Artinya, sudah lebih dari dua abad tanpa gempa besar," ungkapnya.
Megathrust Selat Sunda memiliki panjang 280 km dan lebar 200 km, dengan tingkat pergeseran 4 cm per tahun.
Sementara Megathrust Mentawai-Siberut memiliki dimensi serupa dan riwayat gempa besar pada 1797 (M 8,7) dan 1833 (M 8,9).
Baca Juga: Trending, Indonesia di Guncang 2 Gempa Bersamaan, Sinyal Bahaya dari Zona Megathrust?
Kesiapsiagaan Jadi Kunci
Meskipun gempa tak bisa diprediksi secara pasti, langkah mitigasi dan kesiapsiagaan tetap menjadi senjata utama.
Edukasi masyarakat, penguatan struktur bangunan, hingga sistem peringatan dini harus terus ditingkatkan.
"Selama kita tinggal di daerah rawan gempa, kita tak boleh lengah. Pemahaman risiko dan kesiapan masyarakat adalah kunci menyelamatkan nyawa," pungkas Amien. (*)
Editor : Ali Mustofa