RADAR KUDUS –Ratu Kalinyamat merupakan pahlawan nasional dari Kabupaten Jepara yang terkenal adil dan berani. Ratu Kalinyamat merupakan anak dari Sultan Trenggono, Raja Kerajaan Demak Bintoro, cucu dari Raden Patah, sekaligus cicit dari Prabu Brawijaya V yang konon melarang warga Cepu Blora khususnya keturunan Adipati Cepu untuk mendaki Gunung Lawu.
Ratu Kalinyamat memimpin Jepara selama tiga dekade pada abad ke-16 Masehi. Selama memimpin Jepara, Ratu Kalinyamat berhasil menyejahterakan masyarakat Jepara.
Jepara menjadi wilayah dengan kekuatan maritim yang kuat. Bahkan Ratu Kalinyamat 2 kali mengirim pasukan untuk menyerang Portugis di Malaka.
Penulis Portugis: Rainha de Japar Senhora Paderosa e Rica
Ratu Kalinyamat sangat terkenal. Tidak hanya di Demak, Jepara dan sekitarnya, tetapi juga Aceh, Malaka, hingga Portugis.
Kepiawannya dalam memimpin dan perang diakui oleh banyak kerajaan termasuk negara lain seperti Portugis.
Penulis Pourtugis Deigo de Couto dalam bukunya Da Asia menggambarkan Ratu Kalinyamat sebagain Rainha de Japara Senhora Paderosa e Rica yang artinya Ratu Jepara yang kaya dan berkuasa.
Karena kekayaannya Babada Tanah Jawi menggambarkan Rtau Kalinyamat memberikan hadiah kepada Ki Pemanahan untuk mendirikan Mataram. Sedangkan orang-orang Portugis yang menyaksikan dirinya menyerang Malaka menyebut Ratu Kalinyamat sebagai De Kraniuge Dame, perempuan pemberani.
Profil Ratu Kalinyamat
Ratu Kalinyamat memiliki nama asli Retna Kencana. Dia merupakan keturunan Raja Kesultanan Demak. Dia merupakan putri dari Sultan Trenggono dan cucu dari Raden Patah, pendidiri Kesultanan Demak Bintoro.
Raden Patah (1500-1518) konon merupaan putra dari Prabu Brawijaya V, Raja Kerajaan Majapahit. Sedangkan Sultan Trenggono merupakan anak dari Raden Patah yang memimpin Kerajaan Demak pada 1521-1546 Masehi.
Ratu Kalinyamat juga konon cicit dari Prabu Brawijaya V yang merupakan raja terakhir Kerajaan Majapahit yang diduga melarang warga Cepu Blora mendaki Gunung Lawu.
Dikutip dari Indonesia The Land of 1000 Kings (2004) karya Dwitri Wluyo, Sultan Trenggono menikahi anak perempuan Arya Damar, Adipati Palembang (masih wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit).
Dari pernikahan itu lahirlah Retna Kencana atau yang lebih dikenal Ratu Kalinyamat. Retna Kencana bukan lahir di Jepara, melainkan di Demak. Tepatnya di lingkungan Kerajaan Demak Bintoro. Namun dia dikenal dari Jepara karena tinggal dan memimpin Jepara.
Menikah dengan Anak Pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam Bernama Sultan Hadlirin
Retna Kencana menikah dengan Pangeran Thoyib, putra Sultan Mughayat Syah, pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam yang bertahta pada 1514-1528.
Pangeran Thoyib ditugaskan memimpin wilayah pesisir sebelah timur Kesultanan Demak yakni daerah Kalinyamat.
Dari situlah kemudian nama Kalinyamat tersemat untuk Pangeran Thoyib yang memimpin daerah tersebut bersama istrinya, Retna Kencana. Pangeran Thoyib mendapat gelar Sultan Hadlirin.Dalam perjalananya memimpin Jepara, Sultan Hadlirin meninggal dunia pada 1549.
Dia dibunuh orang-orang suruhan Arya Penangsang, Bupati Jipang Panolan yang kala itu melakukan perlawanan terhadap Kesultanan Demak.
Prabu Brawijaya V Merupakan Buyut Ratu Kalinyamat
Prabu Brawijaya V atau Bhre Kertertabhumi merupakan Raja Kerajaan Majapahit yang konon melarang warga Cepu Blora khususnya keturunan Adipati Cepu mendaki Gunung Lawu.
Prabu Brawijaya V konon memiliki anak bernama Raden Patah dari seorang selir, putri China bernama Siu Ban Ci.
Dari pernikahan Raden Patah dengan beberapa istrinya lahirlah Pati Unus, Pangeran Seda Lepen, SultanTrenggono, hingga Ratu Nyawa.
Dari Sultan Trenggono lahirlah Ratu Retna Kencana atau Ratu Kalinyamat. Ratu Kalinyamat merupakan putri kedua dari Sultan Trenggono yang merupakan raja ketiga di Kerajaan Demak. Tak heran, Ratu Kalinyamat merupakan buyut dari Prabu Barwijaya V. Itu artinya Ratu Kalinyamat masih memiliki darah Majapahit.
Nama Kalinyamat diberikan berdasarkan tempat yang ada di Kabupaten Jepara Jawa Tengah yang merupakan salah satu daerah kekuasaan Kerajaan Demak.
Ratu Kalinyamat merupakan tokoh yang memiliki peranan penting sebelum runtunya Kerajaan Demak. Khususnya pada saat dinasti Demak mengalami konflik politik yakni perebutan kekuasaan di antara keturunan Raden Patah.
Sepeninggal Sultan Trenggana, Ratu Kalinyamat beserta suaminya Sultan Hadlirin mendapat wilayah kekuasaan di Pati, Jepara, Juwana hingga Rembang.
Bersama suaminya, Ratu Kalinyamat memperoleh daerah bernama Kalinyamat sebaai puast kekuasaan di wilayah Jepara hingga Rembang.
Setelah Sultan Trenggana wafat, daerah Kalinyamat digabungkan denga daerah Prawoto yang sebelumnya menjadi kekuasaan Sunan Prawata yang merupakan kakak dari Ratu Kalinyamat.
Di bawah kekuasaan Ratu Kalinyamat, Jepara menjadi pintu gerbang pelabuhan dan bandar perdagangan Kerajaan Demak. Tak heran, Jepara menjadi daerah yang kaya dan masyarakatnya sejahtera.
Sebagai penguasa, Ratu Kalinyamat menjadi kerjasama dengan penguasa lain.
Bahkan buyut dari Prabu Brawijaya V ini dikisahkan sangat kuat hingga mampu menyerang Portugis di Aceh hingga Malaka dengan mengirimkan 15.000 prajurit.
Itulah sejarah tentang Ratu Kalinyamat yang merupakan keturunan Prabu Brawijaya V yang melarang orang Cepu Blora, Bojonegoro, dan keturunan Adipati Cepu mendaki Gunung Lawu.
Jasa-Jasa Ratu Kalinyamat
Selama memimpin, Jepara tumbuh pesat. Dalam sumber Portugis yang ditulis Meilink-Roelofsz, Jepara menjadi pelabuhan terbesar di pantai utara Jawa dan memiliki armada laut yang besar dan kuat pada abad ke-16.
Ketenaran Ratu Kalinyamat terdengar hingga ke negeri seberang. Pada 1550, Sultan Johor meminta bantuan Ratu Kalinyamat untuk mengusir penjajah Portugis dari Malaka.
Ratu Kalinyamat menyanggupi dengan mengirim 40 kapal perang yang mengangkut 4.000 orang tentara ke Malaka. Di sana sebut, H.J.de Graaf dalam Awal Kebangkitan Mataram (2001), armada perang Jepara bergabung dengan Persekutuan Melayu yang berkekuatan lebih dari 150 kapal.
Pasukan gabungan Jepara dan Melayu dengan hebatnya bertempur melawan tentara Portugis dan nyaris meraih kemenangan di Malaka.
Namun, 2.000 prajurit Ratu Kalinyamat dilaporkan gugur dalam perang dan sebagian menjadi korban badai di lautan. Sisa pasukan tersebut kemudian memutuskan pulang ke Jawa setelah berperang selama 3 bulan penuh di darat maupun laut.
Pada 1573, datang permohonan dari Sultan Aceh, Ali Riayat Syah untuk kembali melawan Purtugis di Malaka. Ratu Kalinyamat yang memang pernah menjadi istri pangeran dari Aceh langsung mengiyakan permohonan bantuan.
Klai ini armada perang dari Jepara jauh lebih besar yakni dengan kekuatan 300 kapal dan 15.000 prajurit, Pasukan ini tiba di Malaka pada 1574.
Sayang Portugis membajak kapal-kapal milik Ratu Kalinyamat yang belakangan datang membawa perbekalan bahan pangan. Alhasil, para prajurit Jepara yang sedang bertempur pun kekurangan makanan dan sekitar 7.000 orang gugur di Malaka.
Kekuatan Jepara semakin lemah dan memutuskan pulang. Jumalah pasukan tersisa sepertiga saja yang bisa kembali ke Jepara.
Beberapa tahun setelah peristiwa itu, Ratu Kalinyamat meninggal dunia pada 1579 di Jepara. Jenazahnya dimakamkan di Kompleks Makam Masjid Mantingan, Jepara, Jawa Tengah bersama suaminya, Sultan Hadlirin.
Ratu Kalinyamat Ditetapkan sebagai Pahlawan
Ratu Kalinyamat resmi ditetapkan sebagai pahlawna nasional. Penganugerahan gelar pahlawan nasional ini tertuang dalam keputusan Presiden Nomor 1145-TK-2023 Tanggal 6 November 2023, tentang Penganugerahan Ratu Kalinyamat diberikan gelar pahlawan nasional, sebagai penghargaan dan penghormatan yang tinggi atas jasa-jasanya ung luar biasa.
Dengan begitu, Kabupaten Jepara memiliki dua pahlawan nasional. Satu RA Kartini. Satu Ratu Kalinyamat.
Editor : Noor Syafaatul Udhma