RADAR KUDUS - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan terkait potensi gempa besar yang dapat dipicu oleh dua megathrust di Indonesia yang telah lama tidak melepaskan energinya.
Peringatan ini disampaikan seiring dengan gempa berkekuatan Magnitudo 7,1 yang memicu tsunami di Jepang, yang bersumber dari Megathrust Nankai pada Jumat (8/8) pukul 14.42 WIB.
Megathrust adalah zona pertemuan antar-lempeng tektonik di Bumi yang memiliki potensi besar untuk memicu gempa kuat dan tsunami.
Zona ini dapat mengalami gempa secara berulang dengan interval waktu hingga ratusan tahun.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa Megathrust Nankai merupakan salah satu zona seismic gap—zona sumber gempa yang belum mengalami gempa besar dalam beberapa puluh hingga ratusan tahun terakhir.
Zona ini diduga sedang mengalami proses akumulasi tegangan di kerak Bumi.
Daryono mengungkapkan, kondisi serupa juga terjadi di Indonesia, terutama pada dua megathrust yang telah lama tidak melepaskan energinya dalam bentuk gempa.
"Kekhawatiran ilmuwan Jepang saat ini sejalan dengan yang dirasakan ilmuwan Indonesia, khususnya tentang 'Seismic Gap' Megathrust Selat Sunda (M8,7) dan Megathrust Mentawai-Siberut (M8,9)," ujar Daryono dalam keterangan tertulis pada Minggu (11/8).
Dia menambahkan, gempa di kedua segmen megathrust tersebut "tinggal menunggu waktu" karena sudah lebih dari dua abad tidak terjadi gempa besar di sana.
Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017, Megathrust Selat Sunda terakhir kali mengalami gempa pada 1699 dan 1780 dengan Magnitudo 8,5.
Sementara Megathrust Mentawai-Siberut mengalami gempa pada 1797 dan 1833 dengan Magnitudo 8,7 dan 8,9.
Daryono juga menegaskan bahwa gempa di zona megathrust sangat berpotensi memicu tsunami.
"Gempa besar dan dangkal di zona megathrust akan memicu patahan mekanisme thrust fault yang bisa mengganggu kolom air laut, sehingga menyebabkan tsunami," jelasnya.
Dalam menghadapi potensi pecahnya dua segmen tersebut, BMKG telah menyiapkan sistem monitoring, pemrosesan, dan penyebaran informasi gempa serta peringatan dini tsunami yang lebih cepat dan akurat.
BMKG juga memberikan edukasi, pelatihan mitigasi, serta simulasi evakuasi berbasis pemodelan tsunami kepada berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku usaha di kawasan pantai.
"Semoga saja upaya mitigasi gempa bumi dan tsunami ini berhasil, sehingga dapat menekan risiko dampak bencana atau bahkan bahkan mencapai zero victim," tutup Daryono. (ury)
Editor : Ali Mustofa