RADAR KUDUS - Tenggelamnya Kapal Van der Wijck merupakan sebuah film yang diadopsi dari novel karayangan Buya HAMKA dan ditayangkan di bioskop 2013 lalu.
Novel itu mengisahkan persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih bernama Zainudin dan Hayati hingga berakhir dengan kematian.
Namun, tak banyak yang tahu, sejatinya Kapal van der Wijck adalah sebuah kapal mewah yang dibuat pada tahun 1921 yang dinamai menurut Gubernur Jenderal Hindia Belanda Carel Herman Aart van der Wijck.
Kapal ini tenggelam pada tahun 1936 di Laut Jawa.
Tenggelamnya kapalitu pula melatarbelakangi penulisan novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck oleh Hamka.
Kapal itu tenggelam pada 20 Oktober 1936 di Perairan Lamongan, Jawa Timur tepatnya berada 12 mil dari Pantai Brondong, Lamongan.
Kapal Van Der Wijck tenggelam saat berlayar dari Bali menuju Semarang dan singgah terlebih dahulu di Surabaya.
Dari Surabaya, kapal tercatat membawa muatan sekitar 150 ton besi dan 5 buah konsedor dengan masing-masing seberat 3 ton.
Saat tenggelam, tercatat ada sekitar 153 penumpang selamat, 58 penumpang tewas, dan 42 lainnya hilang seperti di tulis oleh de Telegraaf pada 22 Oktober 1936.
Proses penyelamatan para penumpang kapal itu juga turut dibantu para nelayan pesisir Lamongan.
Atas jasa nelayan Brondong dan Blimbing, sebagian awak kapal dan penumpang dapat diselamatkan.
Pemerintah Hindia Belanda pun mendirikan monumen di halaman Kantor Pelabuhan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur untuk mengenang peristiwa tersebut dan juga sebagai tanda menghormati jasa nelayan yang ikut serta membantu evakuasi. (rom/khim)
Editor : Abdul Rokhim