BANDUNG - Satu siswa SD di Bandung keracunan yang diduga disebabkan jajan cireng mini atau cimin meninggal dunia.
Sebelumnya, puluhan siswa SDN 3 Jati di Desa Saguling, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengalami keracunan.
Keracunan massal tersebut diduga disebabkan jajanan cireng mini alias cimin yang dijajakan seorang pedagang di area sekolah.
Berdasarkan laporan Puskesmas Saguling, hingga Kamis (28/9) saat ini korban keracunan siswa SDN 3 Jati berjumlah 34 siswa.
Dengan perincian 15 siswa menjalani rawat inap, 13 rawat jalan, dan sisanya dirawat di RS Kartini 3, RSCK 1, RS Dustira 1 meninggal dunia, serta Klinik Assyyidha 1 siswa.
Korban berinisial RNN yang baru berusia 9 tahun.
Berdasarkan laporan, korban meninggal usai menjalani perawatan di RS Dustira, Kota Cimahi, pada Rabu (27/9) sekitar pukul 23.30 WIB.
Kepala Puskesmas Saguling, Burhan mengatakan kalau korban meninggal tak hanya karena keracunan saja, namun yang bersangkutan memiliki riwayat penyakit penyerta.
"Ada 1 yang meninggal, di RS Dustira. Tapi karena punya komorbid atau penyakit penyertanya itu thalasemia. Riwayat kontrol rutin di RSHS," ujar Burhan saat ditemui, Kamis (28/9).
Sementara siswa lain yang mengalami keracunan massal, saat ini sudah mendapatkan penanganan dari Puskesmas Saguling dan rumah sakit lainnya.
Kebanyakan dari korban mengalami gejala khas mual, muntah, diare, demam.
"Semuanya sudah ditangani, kita lakukan rehidrasi karena mereka banyak muntah dan diare. Tapi sebagian sudah membaik kondisinya," ucap Burhan.
Ia menduga keracunan massal itu disebabkan karena jajanan cimin.
"Dugaan penyebabnya dari jajanan cimin berbumbu pedas, mungkin dari pedasnya ini," katanya.
Saat ini pihaknya telah mengambil sampel cimin dari pedagang untuk dilakukan uji labolatorium di Labkesda Jawa Barat, guna memastikan dugaan tersebut.
"Sampel yang diambil berupa terigu, bahan cabe kering, bumbu-bumbu penyedap, cimin siap goreng, dan bahan baku berupa tepung singkong tapioka," ujarnya.
Editor : Dzikrina Abdillah