Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Israel Hancurkan Terowongan Diduga Gudang Senjata Hizbullah, Ketegangan di Perbatasan Lebanon Kembali Memanas

Mahendra Aditya Restiawan • Senin, 29 Juni 2026 | 08:12 WIB
Israel Bantah Terlibat Gugurnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon, Tuding Hizbullah Sebagai Dalang
Ilustrasi militer yang sedang menembak.

RADAR KUDUS - Konflik di perbatasan Israel-Lebanon kembali memasuki babak baru. Militer Israel mengumumkan telah menghancurkan sebuah terowongan bawah tanah yang diklaim menjadi tempat penyimpanan ratusan senjata milik Hizbullah.

Operasi tersebut memicu reaksi keras dari kelompok bersenjata yang didukung Iran itu dan meningkatkan kekhawatiran akan kembali meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Aksi militer tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah Lebanon dan Israel menyepakati kerangka kerja trilateral yang dimediasi Amerika Serikat sebagai upaya meredakan ketegangan sekaligus mendorong proses pelucutan senjata Hizbullah.

Israel Klaim Musnahkan Terowongan Strategis Hizbullah

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Katz menyatakan bahwa pasukan Israel berhasil menghancurkan sebuah terowongan bawah tanah di wilayah Lebanon selatan.

Menurut pemerintah Israel, terowongan tersebut memiliki panjang lebih dari 200 meter dengan kedalaman sekitar 25 meter. Di dalamnya, militer mengklaim menemukan ratusan persenjataan, termasuk sejumlah peluncur roket yang disebut telah dipersiapkan untuk menyerang wilayah Israel dan sasaran sipil.

Israel menyebut operasi tersebut merupakan bagian dari langkah preventif guna menghilangkan ancaman keamanan di sepanjang perbatasan utara negaranya.

Pemerintah Israel juga mengatakan bahwa sebelum operasi dilakukan, pihaknya telah memberikan pemberitahuan kepada Amerika Serikat serta perwakilan AS yang berada di Lebanon.

Terjadi Saat Upaya Perdamaian Baru Dimulai

Operasi penghancuran terowongan berlangsung di tengah upaya diplomatik yang baru saja dimulai.

Beberapa hari sebelumnya, Lebanon dan Israel menyepakati sebuah kerangka kerja yang difasilitasi Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut bertujuan membuka jalan menuju stabilitas kawasan sekaligus mengurangi eskalasi konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Namun, serangan terbaru itu memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan proses diplomasi yang sedang dibangun.

Hizbullah Sebut Israel Langgar Gencatan Senjata

Hizbullah merespons keras operasi militer tersebut.

Dalam pernyataannya, kelompok itu menegaskan tindakan Israel merupakan pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang selama ini diklaim telah dipatuhi.

Hizbullah juga menyatakan tetap memiliki hak untuk mempertahankan wilayah Lebanon dan melindungi rakyatnya apabila terjadi serangan lebih lanjut.

Meski mengeluarkan pernyataan tegas, hingga kini belum ada laporan resmi mengenai bentuk respons militer langsung yang dilakukan Hizbullah setelah insiden tersebut.

Serangan Dilaporkan Terjadi di Sejumlah Wilayah Lebanon Selatan

Media pemerintah Lebanon melaporkan bahwa beberapa wilayah di bagian selatan negara itu kembali menjadi sasaran serangan sepanjang Minggu.

Salah satunya berada di sekitar Nabatieh, kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu basis pengaruh Hizbullah.

Kementerian Kesehatan Lebanon juga melaporkan dua warga mengalami luka-luka akibat ledakan granat kejut yang dikaitkan dengan operasi militer Israel.

Sementara itu, sejumlah warga di kota pesisir Tyre dilaporkan sempat meninggalkan rumah mereka setelah muncul informasi mengenai kemungkinan ledakan lanjutan di sekitar wilayah Majdal Zoun.

Konflik Belum Benar-Benar Mereda

Situasi keamanan di perbatasan Israel-Lebanon memang masih rapuh meski berbagai upaya diplomasi terus dilakukan.

Dalam beberapa bulan terakhir, kedua pihak masih saling melancarkan operasi militer terbatas. Israel sebelumnya juga mengumumkan seorang tentaranya tewas dalam bentrokan di Lebanon selatan serta mengklaim berhasil menewaskan seorang anggota Hizbullah dalam operasi terpisah.

Di sisi lain, Hizbullah terus menyatakan bahwa keterlibatannya dalam konflik regional merupakan bentuk dukungan terhadap sekutu-sekutunya di kawasan.

Ancaman Eskalasi Masih Menghantui Timur Tengah

Pengamat menilai insiden terbaru ini berpotensi memperumit proses deeskalasi yang sedang diupayakan berbagai pihak.

Meski Amerika Serikat terus mendorong terciptanya stabilitas di kawasan, setiap operasi militer baru berisiko memicu aksi balasan yang dapat memperluas konflik lintas perbatasan.

Dengan kondisi tersebut, perhatian dunia internasional kini kembali tertuju pada perkembangan di Lebanon selatan dan perbatasan utara Israel, yang masih menjadi salah satu titik paling sensitif dalam dinamika keamanan Timur Tengah.

Editor : Mahendra Aditya
#Israel Lebanon #terowongan Hizbullah #konflik timur tengah #benjamin netanyahu #hizbullah