Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Viral Pola Asuh Ala VOC, Efektif atau Berisiko untuk Anak?

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 20 November 2025 | 21:22 WIB
Photo
Photo

RADAR KUDUS - Tren pola asuh bertajuk "Parenting VOC" tengah ramai dibicarakan di TikTok dan memunculkan perdebatan publik.

Model pengasuhan ini dikenal sebagai gaya yang tegas, penuh aturan, dan cenderung otoriter.

Istilah tersebut dipopulerkan sejumlah kreator konten, salah satu akun lewat unggahan yang membahas Parenting VOC vs MakMak Batak.

Konten itu dengan cepat viral dan memicu diskusi luas di media sosial.

Meski menggunakan istilah VOC, konsep ini tidak berkaitan langsung dengan Vereenigde Oostindische Compagnie, melainkan menjadi metafora pola asuh "keras" yang dianggap mampu mencetak anak yang mandiri dan disiplin.

Pro Kontra di Media Sosial

Sebagian pengguna TikTok menilai pola ini relevan di tengah tantangan zaman yang serba cepat.

Mereka percaya bahwa batasan yang tegas dapat membangun karakter, ketekunan, serta kemampuan mengendalikan diri anak sejak dini.

Namun, tidak sedikit yang mengkritik metode ini karena dianggap terlalu kaku dan berpotensi menghambat perkembangan emosional.

Beberapa komentar bahkan menyebut pola tersebut bisa membuat anak mengalami trauma atau kesulitan bersosialisasi.

Paparan Psikolog: Ada Sisi Positif, Tapi Perlu Batas

Psikolog anak menilai bahwa pola asuh yang terlalu otoriter dapat berdampak pada kondisi psikologis dan sosial anak.

Seperti disampaikan dokter Rani Effendi dalam konten TikTok-nya, pola pengasuhan ala “militer” dinilai kurang relevan diterapkan dalam situasi sosial masa kini.

Pendapat tersebut sejalan dengan hasil penelitian Universitas Padjadjaran mengenai pola asuh otoriter.

Dalam jurnal itu disebutkan, pendekatan yang penuh kontrol dan minim ruang diskusi sering membuat anak merasa takut, sulit beradaptasi, dan rentan mengalami masalah kepercayaan diri.

Penelitian juga menunjukkan bahwa anak yang dibesarkan dengan pola ini dapat terlihat patuh di depan orang tua, namun justru bersikap agresif atau memberontak di lingkungan sosialnya.

Perlu Penyesuaian Zaman

Meskipun pola asuh disiplin dinilai mampu membangun tanggung jawab dan kemandirian, para ahli menekankan pentingnya keseimbangan.

Generasi masa kini membutuhkan pendekatan yang lebih humanis, terbuka terhadap dialog, dan mendorong kreativitas serta kemampuan pemecahan masalah.

Orang tua diimbau menyesuaikan metode pengasuhan dengan kebutuhan anak, bukan sekadar mengikuti tren media sosial.(laura)

Editor : Ali Mustofa
#Mendidik anak #Parenting VOC #Perkembangan anak #Pola asuh otoriter #Media sosial parenting