RADAR KUDUS - Kebiasaan “Scan QR saja” kini menjadi pemandangan sehari-hari di berbagai tempat—mulai dari kafe, minimarket, kampus, hingga warung kaki lima.
Bagi generasi Z, yang sejak kecil sudah akrab dengan gawai dan internet, pembayaran digital bukan lagi sekadar pilihan, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup yang melekat.
Transisi menuju masyarakat tanpa uang tunai atau cashless society ini semakin pesat setelah ekosistem digital berkembang luas di Indonesia.
Data Bank Indonesia mencatat transaksi uang elektronik pada 2024 menembus Rp500 triliun, dan sebagian besar pengguna aktifnya merupakan kelompok muda berusia 18–25 tahun.
Kepraktisan, kecepatan transaksi, serta fleksibilitas menjadi alasan utama mereka beralih dari uang tunai ke berbagai layanan digital seperti QRIS, dompet digital, dan mobile banking.
Nadira (20), seorang mahasiswi di Jakarta, mengungkapkan bahwa pembayaran digital memudahkannya mengatur aktivitas sehari-hari.
Ia dapat memantau pengeluaran langsung dari aplikasi tanpa harus menyimpan banyak uang fisik.
Aplikasi seperti GoPay, OVO, DANA, dan ShopeePay pun sudah menjadi bagian dari rutinitas anak muda, mulai dari membeli makan, memesan transportasi, hingga belanja kebutuhan.
Namun, kemudahan ini membawa tantangan baru. Kemunculan promo cashback, diskon harian, layanan paylater, serta kemudahan checkout instan membuat banyak anak muda melakukan pembelian secara spontan.
Riset InsightAsia menunjukkan lebih dari 60% pengguna dompet digital usia 18–25 tahun pernah mengalami kesulitan mengontrol pengeluaran karena frekuensi transaksi yang terlalu sering dan tidak tercatat secara manual.
Beberapa dari mereka bahkan mengaku sering terkejut saat saldo digitalnya tiba-tiba habis.
Fenomena konsumsi impulsif ini tidak hanya terjadi karena promo, tetapi juga akibat rendahnya literasi keuangan di kalangan anak muda.
Banyak yang belum memiliki perencanaan finansial jangka panjang, tidak menyiapkan dana darurat, dan kurang memahami risiko di balik layanan paylater yang menawarkan kemudahan sesaat.
Dalam kondisi tertentu, pola konsumtif ini dapat berujung pada masalah keuangan yang lebih serius jika tidak disertai kontrol diri dan pemahaman yang memadai.
Meski demikian, hadirnya sistem pembayaran digital juga membawa manfaat positif.
UMKM semakin mudah menerima pembayaran, transaksi lebih efektif, dan masyarakat yang sebelumnya tidak terjangkau layanan keuangan kini dapat mengaksesnya.
Transformasi ini menjadi peluang bagi perekonomian digital Indonesia untuk tumbuh lebih inklusif.
Agar manfaatnya lebih optimal, pendidikan literasi keuangan sejak dini menjadi kunci penting.
Baik institusi pendidikan, keluarga, maupun platform digital memiliki peran dalam memberikan pemahaman mengenai pengelolaan uang, keamanan data, hingga penggunaan layanan keuangan secara bertanggung jawab.
Teknologi hanyalah alat, sementara arah penggunaannya ditentukan oleh kesadaran individu.
Bagi Gen Z, hidup tanpa dompet fisik mungkin terasa jauh lebih praktis. Namun di balik setiap kali “scan QR”, ada keputusan finansial yang perlu dipertimbangkan.
Kemudahan transaksi tidak selalu berbanding lurus dengan kebijaksanaan dalam mengelola keuangan.
Pada akhirnya, keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan kontrol konsumsi menjadi kunci agar generasi muda tidak terjebak dalam gaya hidup yang boros dan impulsif dalam era digital. (rani)
Editor : Ali Mustofa