RADAR KUDUS - Di tengah derasnya notifikasi yang muncul hampir setiap menit, generasi muda mulai membentuk kebiasaan baru: menyalakan mode Do Not Disturb (DND) sepanjang hari.
Bagi banyak orang, notifikasi ponsel dulu dianggap sebagai tanda kehadiran atau perhatian. Namun bagi Gen Z, bunyi notifikasi justru berubah menjadi sumber stres, distraksi, dan beban pikiran.
Inilah yang melahirkan tren DND 24/7, sebuah pilihan sadar untuk mematikan gangguan digital dan mengambil kembali ruang ketenangan di tengah kebisingan dunia maya.
Tren ini bahkan viral di media sosial, menjadi simbol bagaimana generasi muda ingin mengatur ulang hubungan mereka dengan teknologi.
Mode DND dianggap sebagai cara paling sederhana untuk mengendalikan fokus. Banyak anak muda mengakui bahwa satu notifikasi kecil saja dapat menggeser perhatian mereka dan berujung pada aktivitas “scrolling” berjam-jam tanpa disadari.
Penelitian pun menunjukkan bahwa setelah interupsi, dibutuhkan waktu cukup lama — rata-rata lebih dari 20 menit — untuk kembali ke tingkat konsentrasi awal. Dengan DND, jeda itu bisa diminimalkan.
Para praktisi kesehatan mental melihat fenomena ini sebagai bentuk kesadaran baru tentang pentingnya batasan digital.
Mode DND membantu seseorang menjaga jarak dari percakapan yang tidak mendesak, mengelola rasa kewajiban untuk segera membalas pesan, dan menahan diri dari dorongan mengecek aktivitas orang lain.
Dalam konteks tertentu, terutama bagi mereka yang mudah terdistraksi, fitur ini dapat menjadi alat penguat fokus yang efektif.
Namun, ada catatan penting yang perlu dipahami. Keputusan untuk menyalakan DND bukan sekadar tindakan teknis, tetapi juga berkaitan erat dengan kondisi psikologis seseorang.
Jika mode ini digunakan karena keinginan untuk menghindari interaksi sosial, adanya kecemasan berlebih, atau gejala depresi seperti kehilangan minat pada aktivitas, maka hal itu bisa menunjukkan adanya kebutuhan akan pendampingan lebih mendalam.
Tren ini juga memunculkan perbedaan pandangan antar generasi. Generasi yang lebih tua tumbuh pada masa ketika panggilan telepon jarang terjadi, sehingga setiap dering terasa penting dan harus segera direspons.
Sebaliknya, generasi saat ini hidup dengan akses yang nyaris tanpa batas, sehingga panggilan atau pesan tidak lagi memiliki bobot urgensi yang sama. Karena itu, mode DND dianggap sebagai bentuk normal dari pengelolaan waktu dan energi.
Selain alasan psikologis, ada pula aspek biologis yang membuat jeda dari notifikasi menjadi penting.
Berbagai riset menunjukkan bahwa suara atau getaran ponsel dapat memicu pelepasan hormon stres.
Jika terjadi terus-menerus, tubuh akan berada dalam kondisi “siaga tinggi” yang melelahkan. Mengaktifkan DND memberi kesempatan bagi sistem saraf untuk pulih dari tekanan itu.
Bagi banyak orang, mode DND adalah titik tengah yang ideal: tetap terhubung tanpa harus selalu tersedia. Dengan fitur ini, seseorang dapat memilih kapan ingin terlibat dan kapan harus memberi ruang bagi dirinya sendiri.
Pada akhirnya, kebiasaan DND 24/7 bukanlah bentuk penolakan terhadap teknologi, melainkan strategi untuk menggunakan teknologi secara lebih sehat. Gen Z melihatnya sebagai cara menjaga ketenangan mental, mengatur alur hidup, dan memutus rantai ketergantungan pada notifikasi yang kian menumpuk.
Tren ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia yang serba cepat, hening adalah kebutuhan — dan kadang, cukup dengan satu tombol “Jangan Ganggu”. (rani)
Editor : Mahendra Aditya