Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Nostalgia Jadi Tren: Kenapa Gen Z Obsesi dengan Gaya 2000-an?

Redaksi Radar Kudus • Jumat, 3 Oktober 2025 | 22:44 WIB
Y2K Fashion
Y2K Fashion

RADAR KUDUS - Bagi sebagian orang, era 2000-an terasa belum terlalu jauh.

Namun, bagi generasi Z yang lahir setelahnya, masa itu justru dipandang sebagai periode retro yang eksotis dan keren.

Hal-hal yang dulu dianggap biasa saja kini kembali naik daun, menjelma menjadi tren baru yang memikat anak muda, mulai dari cara berpakaian, pilihan musik, hingga penggunaan teknologi.

Fenomena nostalgia ini paling mudah terlihat dalam dunia mode. Pakaian-pakaian yang sempat tenggelam kini kembali dipopulerkan.

Celana low-rise, baby tee, jaket denim potongan pendek, atasan jaring, hingga aksesori berwarna cerah seperti klip rambut kupu-kupu, kembali menjadi item fashion yang banyak dipakai.

Di media sosial, terutama TikTok, gaya ini dengan cepat viral karena dianggap estetik sekaligus unik.

Di Indonesia, gaya distro dan streetwear ala 2000-an juga bangkit kembali.

Banyak anak muda berburu pakaian vintage dari toko thrift untuk mendapatkan sentuhan otentik khas Y2K yang jarang ditemukan pada produk fast fashion modern.

Tak hanya soal penampilan, musik juga mengalami kebangkitan kembali.

Pop punk, genre yang dulu melejit bersama band-band awal 2000-an, kini kembali populer di telinga generasi muda.

Lagu-lagu yang penuh energi dan bernuansa emosional dianggap relevan dengan kondisi hari ini.

Bedanya, pop punk masa kini lebih beragam: musisi perempuan, artis dari latar belakang berbeda, serta lirik yang lebih inklusif mewarnai wajah baru genre ini.

Perubahan ini membuat pop punk tidak hanya sekadar nostalgia, tapi juga simbol bahwa musik lama bisa berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan ciri khasnya.

Selain fashion dan musik, hal menarik lainnya adalah kembalinya minat pada teknologi jadul.

Fenomena ini terlihat dari munculnya tren penggunaan “dumb phones” atau ponsel sederhana yang minim fitur.

Banyak anak muda justru memilih meninggalkan smartphone untuk sementara dan kembali ke ponsel lipat atau bahkan Nokia klasik.

Alasan utamanya sederhana: mereka merasa lelah dengan arus notifikasi yang tiada henti, tekanan media sosial, dan budaya yang menuntut selalu terhubung.

Dengan memakai ponsel retro, mereka bisa mengendalikan privasi, waktu, dan fokus pada kehidupan nyata.

Tren ini disebut sebagai bentuk ekspresi identitas sekaligus upaya hidup lebih tenang di tengah dunia digital yang serba cepat.

Mengapa kecenderungan ini muncul? Jawabannya ada pada kebutuhan emosional.

Nostalgia sering memberikan rasa nyaman, stabil, dan aman, terutama ketika dunia modern terasa penuh tekanan.

Bagi generasi Z, yang tumbuh dalam era digital serba cepat dan penuh distraksi, kembali ke hal-hal lama menghadirkan ruang untuk bernafas.

Mereka menemukan keseimbangan antara kesibukan masa kini dengan kesederhanaan masa lalu.

Fenomena ini bukan sekadar gaya hidup sementara, tetapi refleksi bahwa anak muda sedang mencari cara untuk membentuk identitas mereka sendiri.

Dengan menghidupkan kembali tren Y2K, generasi Z tidak hanya mengenang masa lalu, tapi juga merangkai ulang makna nostalgia agar relevan dengan kehidupan saat ini.

Perpaduan masa lalu dan masa kini akhirnya melahirkan sesuatu yang baru—sebuah budaya pop yang segar, inklusif, dan penuh kreativitas. (rani)

Editor : Ali Mustofa
#retro #2000 #Gen Z #Y2K #Style