Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jaga Kesehatan Mental, Camping Nggak Bikin Kantong Tipis

Andika Trisna Saputra • Minggu, 28 September 2025 | 06:17 WIB
BERKEMAH: Seorang pemuda sedang menghidupkan api di sebelah tenda kemahnya di Grasak Camp Ground, belum lama ini. (DOK PRIBADI)
BERKEMAH: Seorang pemuda sedang menghidupkan api di sebelah tenda kemahnya di Grasak Camp Ground, belum lama ini. (DOK PRIBADI)

DAWE – Menyatu dengan alam tidak harus mahal.

Itulah prinsip hidup Ulul Albab (27), pemuda asli Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, yang gemar melakukan kegiatan camping sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Pertama kali ia mendirikan tenda di Argo Jembangan sekitar tahun 2012, dan sejak itu kegiatan ini menjadi bagian penting dan menjadi hobinya.

Kecintaannya pada dunia camping berawal ketika ikut ajakan sang kakak yang saat itu aktif di kegiatan pramuka sekolah.

Baca Juga: Rahasia Komunikasi Efektif: Lebih dari Sekadar Menyampaikan Pesan

Dari situ, Ulul mulai jatuh hati pada kegiatan mendirikan tenda, menyalakan api unggun, hingga menikmati malam di tengah alam.

“Paling sering ya di Desa Japan sendiri, di Guyangan Camp Ground dan Grasak,” ujarnya.

Sejak 2019, Ulul semakin rutin meluangkan waktu untuk ngecamp.

Hampir setiap bulan ia mendirikan tenda, kadang di Grasak, Guyangan, hingga mendaki ke lokasi yang lebih menantang seperti Argo Piloso, Puncak 29, hingga Natas Angin.

“Paling sering saya berdua sama teman saya dari Pati. Kalau ramai, kadang rombongan bisa sepuluh orang,” tuturnya.

Meski terlihat eksklusif, biaya camping menurut Ulul relatif terjangkau.

Baca Juga: Seni Menciptakan Kesan Pertama yang Positif

Dalam satu kali kegiatan, ia hanya mengeluarkan Rp150–200 ribu untuk dua orang, sudah termasuk sewa tenda, logistik, hingga makanan bakar-bakaran seperti sosis.

“Peralatan kompor portabel dan perlengkapan lain sudah punya sendiri, kalau sewa tenda biasanya Rp35 ribu saja. Jadi tidak perlu mahal-mahal. Menurut saya kalau terasa mahal, mungkin memang dibuat-buat sendiri,” katanya sambil tersenyum.

Baginya, camping bukan sekadar aktivitas hobi, melainkan cara untuk menjaga kesehatan mental.

Duduk di bawah langit terbuka, mendengarkan suara hutan, dan bangun dengan udara segar, menjadi pengalaman yang tidak bisa dibeli dengan uang.

“Camping itu bisa merefresh pikiran, melatih kemandirian, dan membuat kita lebih dekat dengan alam,” jelasnya.

Ulul mengaku lebih suka mengeksplorasi lokasi-lokasi di sekitar Kudus, terutama kawasan Desa Japan yang memang memiliki banyak spot wisata alam.

Namun, ia tidak menutup kemungkinan suatu saat menjajal lokasi di luar daerah.

“Kedepannya ingin juga ngecamp di luar Kudus, tapi sejauh ini belum ada kesempatan,” tambahnya.

Hobi sederhana ini sejalan dengan aktivitasnya yang juga terlibat dalam pengembangan Desa Wisata Japan.

Baginya, wisata alam akan semakin bermakna jika dibarengi dengan kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan.

“Camping itu bukan cuma soal bersenang-senang, tapi juga bagaimana kita bisa belajar menjaga alam tempat kita tinggal,” kata Ulul. (dik)

Editor : Mahendra Aditya
#kesehatan mental #gaya hidup #Kudus #camping #murah