RADAR KUDUS - Generasi Z lahir dan berkembang di tengah derasnya arus digitalisasi, dominasi media sosial, serta guncangan ekonomi dan sosial global yang datang silih berganti.
Kondisi ini membentuk cara pandang yang berbeda terhadap makna pekerjaan, stabilitas, dan pengembangan karier dibanding generasi sebelumnya.
Selama ini Gen Z kerap dicitrakan sebagai generasi yang suka “job hopping”, yaitu sering berpindah pekerjaan untuk mengejar fleksibilitas, gaji lebih tinggi, atau pengalaman baru.
Gambaran tersebut melahirkan stereotip bahwa mereka mudah bosan, cepat mengajukan resign, dan terus mencari tantangan baru.
Namun, kenyataan terbaru menunjukkan paradoks. Di balik stigma “mudah pindah kerja”, justru banyak pekerja muda Gen Z yang terperangkap dalam fenomena “job hugging”: bertahan lama pada pekerjaan atau posisi yang sama.
Fenomena ini lebih sering muncul bukan karena pilihan sadar, melainkan akibat hambatan struktural seperti peluang kerja yang terbatas, jenjang karier yang buntu, dan persaingan pasar tenaga kerja yang semakin ketat.
Dulu, bertahan lama di satu perusahaan dianggap bukti loyalitas dan profesionalisme. Sekarang, pada saat Gen Z mulai mendominasi pasar kerja, makna tersebut bergeser.
Job hugging sering kali menjadi strategi bertahan hidup demi kestabilan finansial dan kepastian ekonomi, walau harus mengorbankan aspirasi profesional, pengembangan keterampilan, atau aktualisasi diri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Juli 2024 menunjukkan tingkat pengangguran terbuka untuk usia 15–24 tahun mencapai 42,62 persen.
Sekitar 20,27 persen Gen Z juga tercatat tidak sekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan.
Kondisi ini memperkuat tekanan agar generasi muda tetap bertahan di pekerjaan yang ada meski kurang sesuai minat, karena risiko ketidakpastian ekonomi lebih menakutkan dibanding peluang baru.
Job hugging tidak selalu negatif. Ada pekerja muda yang secara sadar memilih bertahan karena perusahaan menawarkan keseimbangan hidup-kerja, fleksibilitas waktu, atau nilai sosial yang sejalan dengan prinsip pribadi.
Dalam konteks ini, bertahan bisa menjadi strategi karier yang sehat, asalkan diiringi upaya upskilling dan reskilling agar tetap relevan.
Masalah muncul ketika job hugging terjadi di situasi minim mobilitas, tanpa jalur promosi jelas, dan tanpa pengembangan keterampilan.
Fenomena ini berubah menjadi “jebakan struktural” yang merugikan semua pihak: pekerja kehilangan relevansi dan peluang, perusahaan kehilangan inovasi, dan regenerasi tenaga kerja terhambat.
Lebih parah lagi, jika organisasi tidak menyediakan mekanisme promosi yang adil, job hugging dapat dianggap sebagai pengabaian hak-hak pekerja untuk berkembang.
Karena itu, job hugging pada Gen Z seharusnya dipahami sebagai indikator adanya hambatan sistemik dalam pasar kerja, bukan semata masalah pribadi.
Fenomena ini memerlukan respons menyeluruh: di sisi individu, generasi muda perlu dibekali keterampilan adaptif, kemampuan membangun jejaring profesional, dan strategi perencanaan karier.
Di sisi organisasi, perusahaan harus membuka jalur promosi yang transparan, rotasi pekerjaan, evaluasi pengembangan kompetensi, serta memberikan fleksibilitas kerja dan kesejahteraan sesuai nilai generasi muda.
Peran pemerintah dan lembaga pengembangan SDM juga penting melalui program pelatihan, sertifikasi, dan insentif untuk meningkatkan daya saing pekerja muda.
Dengan dukungan ini, job hugging bisa berubah dari jebakan menjadi strategi bertahan yang produktif dan aman, sehingga potensi Gen Z dapat diaktualisasikan sekaligus memberikan kontribusi optimal bagi organisasi dan perekonomian nasional.
Editor : Ali Mustofa