Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jangan Anggap Remeh Trust Issue! Salah Pilih Teman Bisa Jadi Awal Kehancuran Hidupmu

Ali Mustofa • Kamis, 11 September 2025 | 17:12 WIB
Ilustrasi- Trust issue atau sulit percaya pada orang lain
Ilustrasi- Trust issue atau sulit percaya pada orang lain

RADAR KUDUS - Hidup manusia tidak pernah lepas dari orang lain. Dari lahir hingga meninggal, manusia selalu bergantung pada bantuan sesama.

Namun, di balik kebutuhan untuk bersosialisasi ini, tersimpan satu bahaya yang sering disepelekan: salah memilih teman.

Fenomena ini mungkin terdengar sepele, tetapi kenyataannya, salah pergaulan sering kali menjadi awal dari kehancuran seseorang—baik secara mental, sosial, bahkan spiritual.

Pertemanan bukan hanya tentang bercanda, nongkrong, atau berbagi momen seru.

Di balik itu semua, ada investasi besar yang kita taruhkan: waktu, tenaga, pikiran, emosi, bahkan kepercayaan.

Bayangkan bila investasi ini salah sasaran.

Energi terkuras habis, hati lelah karena drama, pikiran penuh kecurigaan, dan pada akhirnya hidup jadi terasa hampa.

Parahnya lagi, salah memilih teman bisa menyeret kita ke lingkungan penuh dosa, menjauhkan dari kebaikan, bahkan menutup jalan menuju kebahagiaan sejati.

Ironisnya, banyak orang tidak sadar bahwa mereka terjebak dalam lingkaran beracun.

Mereka salah menempatkan loyalitas—menyayangi orang yang justru berbahaya, sementara mengabaikan yang tulus dan peduli.

Inilah yang membuat hidup semakin rumit. Ada yang terus-terusan dikhianati, tapi masih memberikan kepercayaan.

Ada yang sering dipermainkan, tapi tetap memaklumi. Hingga akhirnya, lahirlah kondisi yang disebut trust issue.

Trust Issue: “Tembok Tak Kasatmata” yang Membelenggu Jiwa

Trust issue bukan sekadar sifat hati-hati. Ia ibarat tembok tinggi yang tak terlihat, membuat seseorang sulit membuka diri.

Penderitanya sering merasa selalu curiga tanpa alasan jelas, sulit percaya meski bukti sudah nyata, overthinking berlebihan, terobsesi menguji kesetiaan orang lain, hingga enggan berbagi kisah pribadi karena takut dikhianati.

Fenomena ini kini semakin mencuat di tengah era digital. Rasa dikhianati, perselingkuhan, pertemanan palsu, hingga janji-janji kosong menjadi pemicu utama.

Menurut Psikolog, trauma masa lalu dan pola asuh penuh konflik menjadi akar paling kuat.

Anak yang tumbuh dengan janji palsu atau sering menyaksikan pertengkaran orang tua cenderung membawa luka batin hingga dewasa.

Tak heran, trust issue bukan sekadar masalah perasaan, melainkan juga gangguan psikologis serius yang bisa merusak hubungan, meningkatkan rasa kesepian, bahkan memicu depresi.

Sementara itu, Islam sudah mengingatkan bahaya prasangka. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat: 12.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa...” 

Ayat ini seolah menegur mereka yang hidup penuh curiga. Sebab, sikap itu bukan hanya menyiksa diri sendiri, tetapi juga menghancurkan hubungan dengan sesama.

Namun, bagaimana jika akar masalahnya adalah salah memilih teman?

Rasulullah SAW sudah memberi peringatan keras untuk berhati-hati dengan teman munafik.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda: “Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia tidak menepati, dan jika diberi amanat ia berkhianat.” (HR. Muslim).

Ciri-ciri ini sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mereka terlihat ramah di depan, tetapi menusuk di belakang.

Mereka mudah berjanji manis, namun berkali-kali mengingkarinya. Mereka menerima kepercayaan, tapi dengan mudah mengkhianatinya.

Berteman dengan orang munafik ibarat menyimpan bom waktu. Cepat atau lambat, kita akan jadi korban. Energi terkuras, hati tersakiti, kepercayaan hancur berkeping-keping.

Solusi: Bijak Memilih Teman, Bijak Menjaga Diri

Banyak orang berkata, “Jangan pilih-pilih teman.” Tapi kenyataannya, kita memang harus memilih.

Memilih teman bukan berarti merendahkan orang lain, melainkan menjaga diri agar tidak ikut terseret dalam keburukan.

Teman baik akan jadi cermin kebaikan, sedangkan teman buruk bisa jadi jalan pintas menuju kebinasaan.

Islam mengajarkan untuk selalu selektif dalam berteman. Rasulullah SAW bahkan mengibaratkan pertemanan dengan tukang minyak wangi dan tukang pandai besi.

Berteman dengan yang baik, kita akan kecipratan kebaikan. Berteman dengan yang buruk, kita akan ikut terkena asap dan bau busuknya.

Di era penuh fitnah ini, mencari teman sejati memang sulit. Tetapi tanpa usaha mencari, mustahil kita menemukannya.

Ingat, salah memilih teman bisa mengacaukan hidupmu. Mulai dari rusaknya kepercayaan, runtuhnya hubungan, hingga goyahnya iman.

Jangan sampai hidupmu hancur hanya karena salah menaruh hati pada orang yang tak layak dipercaya.

 

Editor : Ali Mustofa
#munafik #pertemanan #keburukan #Menjaga Diri #trust issue #teman