GEBOG – Ragam pilihan rasa menjadi kunci sukses Waroeng Kepayon milik Indira Maharani (30) dalam menarik minat pelanggan.
Dari satu varian awal, kini usahanya berkembang dengan menghadirkan tujuh pilihan rasa ceker yang mampu menjangkau selera berbagai kalangan.
Usaha ini bermula sekitar lima tahun lalu saat pandemi Covid-19.
Indira memulai dari rumah dengan sistem pre order (P.O) dan cash on delivery (COD), menyasar teman-teman terdekat sebelum akhirnya meluas melalui media sosial.
Strategi gratis ongkir yang ia terapkan saat itu turut menjadi nilai tambah di tengah persaimgan.
Awalnya, Indira hanya menjual satu varian rasa ceker tulang lunak.
Namun, seiring meningkatnya permintaan pelanggan, ia mulai bereksperimen mengembangkan bumbu.
Dari proses belajar otodidak dan berbagi pengalaman dengan rekannya yang berprofesi sebagai chef, kini ia berhasil meracik tujuh varian rasa.
Ketujuh varian tersebut yakni pedas, pedas manis, saus padang, krispi, manis, bakar, dan geprek.
Menu ini menjadi daya tarik utama karena memberikan banyak pilihan bagi pelanggan dengan preferensi rasa berbeda.
“Awalnya cuma satu rasa, tapi karena banyak permintaan, akhirnya saya belajar lagi bikin bumbu lain sampai sekarang ada tujuh varian,” ujarnya.
Selain variasi rasa, keunikan produk juga terletak pada teknik pengolahan ceker tulang lunak yang membuat tulangnya empuk dan bisa dimakan.
Proses ini menggunakan presto dengan waktu sekitar dua jam untuk 10 kilogram ceker, kemudian dimasak kembali selama 15–20 menit.
Ia mengatakan, ceker yang digunakan adalah ceker ayam pedagnig.
Karena ketersediaan bahan banyak dan gampang dicari. Selain itu dagingnya juga besar.
Dari tujuh varian tersebut, rasa pedas dan pedas manis menjadi favorit pelanggan.
Menu ini bisa dinikmati langsung maupun sebagai lauk pendamping nasi hangat, sehingga fleksibel untuk berbagai selera makan.
Tak hanya itu, inovasi terbaru berupa ceker tanpa tulang juga mulai diminati.
Varian ini hadir untuk pelanggan yang menginginkan kepraktisan, dengan tekstur yang tetap kenyal meski tanpa tulang.
Sejak membuka warung fisik pada 2023 di Desa Menawan, Kecamatan Gebog, penjualan terus meningkat.
Dalam sehari, Waroeng Kepayon mampu menjual 10 hingga 30 kilogram ceker, dengan lonjakan signifikan saat akhir pekan.
Harga yang ditawarkan pun terjangkau, mulai Rp 14 ribu untuk isi lima, Rp 19 ribu isi tujuh, dan Rp 22 ribu isi sepuluh, dengan semua varian rasa dibanderol harga sama.
Indira juga rutin mengikuti event tradisi Dhandangan di Kudus selama dua tahun terakhir.
Tahun ini, ia mencatat penjualan tertinggi dengan antusiasme pengunjung yang semakin besar.
Meski kini mulai banyak pelaku usaha serupa bermunculan, Indira tetap percaya diri.
Baginya, kekuatan utama Waroeng Kepayon terletak pada konsistensi rasa dan keberagaman pilihan yang mampu memenuhi selera pelanggan. (dik)
Editor : Andika Trisna Saputra