RADAR KUDUS - Menjelajahi kuliner Asia tidak hanya soal rasa dan aroma yang menggoda, tetapi juga penuh cerita budaya yang menarik.
Di balik kekayaan rempah dan teknik memasak yang khas, terdapat berbagai kepercayaan turun-temurun yang masih diyakini oleh sebagian masyarakat hingga saat ini.
Takhayul makanan ini sering kali berkaitan dengan simbol keberuntungan, kesehatan, hingga hubungan sosial.
Meski terdengar tidak masuk akal bagi sebagian orang, nilai filosofis di baliknya justru membuat tradisi ini tetap bertahan. Berikut beberapa di antaranya.
1. Pir dan Gurita, Simbol Buruk dan Keberuntungan di Jepang
Di Jepang, memberikan buah pir sebagai hadiah dianggap membawa makna negatif.
Hal ini karena pelafalan kata “pir” (nashi) terdengar sama dengan kata yang berarti “tidak ada” atau “kehilangan”.
Akibatnya, memberi pir kepada orang sakit atau pasangan bisa dimaknai sebagai doa buruk.
Sebaliknya, siswa di Jepang justru memiliki kebiasaan unik menjelang ujian, yaitu makan gurita.
Kata “tako” diasosiasikan dengan makna “melekat”, sehingga diharapkan ilmu yang dipelajari bisa menempel kuat di ingatan.
2. Pantangan Mi dan Sumpit di China
Di Tiongkok, mi melambangkan umur panjang. Karena itu, memotong mi saat makan dianggap sebagai simbol memutus umur atau keberuntungan.
Selain itu, menancapkan sumpit tegak lurus di dalam nasi juga dihindari karena menyerupai ritual persembahan untuk orang yang telah meninggal. Hal ini dianggap tidak sopan dan membawa aura kurang baik.
3. Larangan Makan Tertentu bagi Ibu Hamil
Di beberapa negara Asia, ibu hamil sering mendapat banyak pantangan makanan. Misalnya, ada kepercayaan bahwa makanan tertentu bisa memengaruhi kondisi bayi, seperti menyebabkan bayi lahir dengan tanda tertentu atau sifat tertentu.
Walau belum tentu terbukti secara ilmiah, kepercayaan ini masih dipegang sebagai bentuk kehati-hatian.
4. Tidak Boleh Membalik Ikan
Di sejumlah budaya Asia, membalik ikan saat makan dianggap membawa sial, terutama bagi keluarga nelayan.
Tindakan ini dianalogikan seperti membalik perahu, yang dipercaya bisa membawa nasib buruk bagi mereka yang mencari nafkah di laut.
5. Menyisakan Makanan Bisa Dianggap Tidak Sopan
Di beberapa wilayah Asia, menghabiskan makanan adalah tanda penghormatan kepada tuan rumah.
Namun di tempat lain, justru menyisakan sedikit makanan dianggap sebagai tanda bahwa tamu sudah kenyang dan puas.
Perbedaan ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara makanan dan norma sosial.
6. Makan Telur untuk Keberuntungan
Telur sering dianggap sebagai simbol kehidupan baru dan keberuntungan. Dalam beberapa budaya, telur dikonsumsi pada momen penting seperti ulang tahun atau perayaan tertentu sebagai harapan akan kehidupan yang lebih baik.
7. Buah dan Angka Keberuntungan
Beberapa buah di Asia dikaitkan dengan angka atau simbol keberuntungan. Misalnya, jeruk sering dianggap membawa rezeki karena warna dan bunyinya yang menyerupai makna kemakmuran dalam bahasa tertentu.
Takhayul makanan di Asia bukan sekadar mitos tanpa arti. Di baliknya, terdapat nilai budaya, simbolisme, dan harapan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Meski zaman sudah modern, kepercayaan ini tetap hidup sebagai bagian dari identitas dan tradisi masyarakat Asia yang kaya dan beragam.
Editor : Mahendra Aditya