Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Selat Solo Modifikasi Tak Terlalu Manis seperti Aslinya

Saiful Anwar • Minggu, 26 September 2021 | 19:54 WIB
RESEP ASAL SOLO: Rani, salah satu pengusaha kuliner di Pati menunjukkan selat solo bikinannya yang sudah dimodifikasi, sehingga cocok dengan lidah warga setempat. (Andre Fadhil Falah/Radar Kudus)
RESEP ASAL SOLO: Rani, salah satu pengusaha kuliner di Pati menunjukkan selat solo bikinannya yang sudah dimodifikasi, sehingga cocok dengan lidah warga setempat. (Andre Fadhil Falah/Radar Kudus)

RASA asam manis mendominasi setelah kaldu selat Solo menyentuh lidah. Rasanya berbeda dari selat Solo lain. Yang didominasi dengan rasa manis. Resep yang turun-temurundari keluarganya di Surakarta itu, sedikit dimodifikasi. Menyesuaikan selera masyarakat lokal yang lebih menyukai cita rasa pedas dan asam manis.






Warna cokelat kental dari kuah dituangkan ke piring ol

eh Reni. Diguyur ke sayur-mayur yang sudah disediakan. Kaldu itu mengalir ke atas dan sela-sela selada, kentang, wortel, telur, serta olahan daging sapi dan kerbau yang tersusun rapi di piring itu.

Photo
Photo
Selat Solo. (Andre Fadhil Falah/Radar Kudus)

Warna pekat kuah tak berasal dari kecap. Melainkan gula merah. ”Warnanya biar cantik,” kata Rani.


Kaldu sapi dengan rasa rempah-rempah yang tipis terasa bergoyang di lidah. Menyusul daging sapi dan kerbau terasa menendang di akhir rasa. ”Rasanya kok mirip pempek? Saya kira manis. Soalnya, ada kata Solo,” tanya wartawan ini. ”Itu ciri khasnya, Mas. Kalau makanan manis dibawa ke Pati peminatnya sedikit. Makanya, saya modifikasi,” jawab perempuan beralamat di Desa Kutoharjo, Pati Kota, itu.

Berbeda dengan galantin, daging olahannya ini tak menggunakan tepung. Rasa dagingnya pas. Tak terlalu amis saat dimakan. ”Karena tak hanya daging sapi. Ditambah daging kerbau. Jadi tidak amis,” jelasnya ketika ditanya kok rasanya tidak amis

Selat Solo yang dibuatnya itu, sudah tiga tahun berjalan. Resepnya dari saudaranya di Solo. ”Saya belajar ke sana (Solo, Red), Mas. Resign kerjaan karena mengurus anak. Akhirnya bikin kesibukan di rumah sambil jaga anak,” ujar perempuan usia 39 tahun itu.

Kemudian dia bisa buat selat solo. Bersama suami dan anaknya, kuliner yang akhirnya dibuat usaha itu itu diberi nama Gyoi. Itu dalam bahasa Jepang. Artinya asal suka.  ”Bisa pesan via IG. Namanya, SelatSolo_Gyoi,” paparnya.

Cara jualannya dari mulut ke mulut. Ada pula via Instagram dan WhatssApp. ”Ampuh dari mulut ke mulut. Dari tetangga ke saudara. Bahkan, ada yang luar kota. Rembang dan Pekalongan contohnya. Katanya, selat solo sini enak dan unik. Tidak kemanisan,” katanya.

Ditanya soal nama selat solo, dia menjelaskan, ”selat” berasal dari kata ”salad” yang berasal dari Eropa. Kemudian, lidah orang Jawa memilih mengucap ”selat” karena lebih mudah.

”Orang Belanda mayoritas makannya salad/sayuran mentah. Lauknya daging. Di sini dimodifikasi. Kentang, wortel, buncis, dan selada direbus. Kalau mentah orang Indonesia kurang suka. Dikiran wedus,” selorohnya.

Dia mengaku, setiap daerah mungkin ada salad. Nah, ini dari Solo. Dengan menyongsong ciri khas sendiri. Sayur-mayur diberi kuah asam manis ditambah telur dan daging.

Selama pandemi Covid-19, dia merasakan penurunan omzet hingga 60 persen. Dulu, 50 sampai 70 porsi bisa terjual sehari. Saat ini, 30 porsi terjual bisa dikatakan bagus. ”Walaupun keadaan sudah membaik, tapi dampaknya masih terasa. Penjualan masih belum bisa kembali seperti semula. Sulit rasanya,” keluhnya.


Editor : Saiful Anwar
#mofifikasi #selat solo #makanan